Tempat tinggalku memang jauh dari
perkotaan dan suasana pedesaan pun masih begitu kental. Saling membantu sesama
tetangga masih begitu terjalin di tempat ini. Tak jarang dari mereka yang akan
menikahkan anaknya, masih bersifat gotong royong dan tidak ada itu wedding organizer. Masih ada persawahan
yang luas, kebun yang besar, dan jarak antarrumah yang begitu jauh. Begitu
sulit kulupakan kampung halamanku. Meskipun sudah lama ingin kutinggalkan
tempat ini untuk sekadar mencari kerja di luar daerah yang suasanya lebih
perkotaan.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Keluarga. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 Maret 2016
Selasa, 13 Oktober 2015
Cerpen Tentang Skripsi : Kenangan Perberat Langkah
Aku masih bingung harus berbuat
apa-apa. Disaksikan berlembar-lembar kertas yang berserakan tak beraturan, aku
masih termenung dalam kamar berukuran 3m x 3m. Ruangan ini benar-benar pengap dan
jenuh aku memandangnya. Setelah hampir enam tahun aku bersemayam dalam kamar
ini. Sampai baunya benar-benar khas minyak wangiku.
Senin, 05 Oktober 2015
Cerpen tentang Lingkungan : Logam dan Kertas yang Merusak Alam
Tak
jenuh-jenuh kupandangi indahnya alam yang menyapa. Mengajarkanku bagaimana aku
harus bersyukur dan mengakui kekuatan-Nya. Tak ingin aku segera beranjak dari tempat ini dan menyiakan moment emas ini begitu
saja. Burung-burung kenari berterbangan bermain seperti bocah desa yang masih
polos. Dengan gembiranya mereka bersiul menyapaku yang tengah berdiri dengan
santainya, seperti ingin mengajakku bermain. Biru warna langit di ujung atas sana
sejauh aku memandang. Benar-benar tanpa ada asap kelabu yang merisau
penglihatan. Hidungku dimanja dengan hirupan aroma terapi alam, sebuah sejuknya
udara pagi. Bibirku semakin mudah melemparkan senyuman tulus dan penuh bangga
memandang alam di sekitar daerah sini. Benar-benar asri desaku ini. Ini yang
aku mau dari desaku yang terus-terusan hijau, subur, indah, dan permai. Para
petani kembali menyapaku dari beberapa arah. Mereka tengah sibuk dengan sawahnya
yang penuh padi yang menunjukkan untuk segera dipanen. Kubalas mereka dengan
lambaian tangan penuh anggunnya.
Rabu, 09 September 2015
Cerpen Keluarga : Malam Tumbuh Dewasa Gadis Ibuku
Cerpen Keluarga : Malam Tumbuh Dewasa Gadis
Ibuku
Aku tak beranjak dari rasa marahku pada ibuku.
Disaksikan kursi sekeliling taman dan gelapnya malam yang mencekam. Aku sengaja
keluar malam ini untuk tenangkan diri setelah adu mulut dengan ibuku. Rasa
jenuh yang begitu mencekam setelah selama ini harus turuti larangan ibu.
Sabtu, 18 April 2015
Cerpen Remaja Pesahabatan : Usia Muda Kami
USIA MUDA KAMI
Aku baru saja pulang menyusuri udara
malam bersama my best friends, Alex
dan Adit. Trio A yang hidup selalu bahagia selama ini. Kami lewati bahagianya
dunia ini secara bebarengan. Seperti prinsip hidup kami “Forever Young”. Bagi
kami untuk mendapat barang mewah itu sangat mudah. Hanya tinggal sebutkan nama
barang itu ke orang tua, tak akan lama barang itu sudah menjadi milik kami. Apa
lagi bagi Alex dan Adit yang bapaknya saja sudah konglomerat. Buat ayahku saja
yang hanya karyawan bawahan, akan sangat mudah untuk turuti kemauanku. Aku
tinggal sebut “minta ini” ayahku sudah bergegas membelikanku. Maklum beginilah
asyiknya anak tunggal seperti juga Alex dan Adit.
Cerpen tentang Pengkhianatan : Tipuan Sempurna
TIPUAN SEMPURNA
Aku tak tega memandang wanita tua
itu. Jika usia tuaku akan seperti itu pasti itu sangat sulit. Dia terus mencari
dan bertanya-tanya siapa dirinya. Siapa jati dirinya? Dan dimana keluarga dia
sebenarnya. Dia harus hidup sendiri dengan ketidaktahuan akan kebenaran jati
dirinya. Bahkan dia baru kemaren tahu bahwa ada peristiwa yang sangat suram
sebenarnya yang menimpanya. Ketika suaminya akan segera menghembuskan nafas
terakhirnya dia ceritakan bagaimana peristiwa yang menimpa istrinya. Namun
ceritanya tak lengkap karena sudah keduluan malaikat penyabut nyawa.
Cerpententang Lingkungan : Surga Terbengkalai
SURGA TERBENGKALAI
Masih saja kupandangi indahnya alam
yang menyapa. Tak ingin aku segera beranjak dari sini. Biru di atas sana tanpa
ada asap kelabu yang merisau. Burung-burung berterbangan dengan gembiranya
bersiul menyapaku yang tengah berdiri dengan santainya. Hidungku semakin
dimanja menghirup sejuknya udara pagi. Bibir tersenyum berbahagia dan penuh
bangga memandang alam di desaku. Hijau desaku yang subur, indah, dan permai.
Para petani tengah sibuk dengan sawahnya yang penuh padi yang begitu hijaunya
tanaman ini. Tegur sapa muncul di raut mereka terhadapku. Kubalas mereka dengan
lambaian tangan penuh anggunnya.
Cerpen Remaja : Rumitnya Sebuah Rahasia
Rumitnya Sebuah Rahasia
Dunia yang semakin sesak dengan
berjuta manusia dan benda-benda. Mereka yang penuh dengan sejuta misteri dan aku
tak boleh mengetahuinya. Dunia memanggilku Rian, anak kelas XII di sebuah SMA
di Jakarta tahun 2014. Alasan ibuku memberikan nama kepadaku dengan istilah
Rian, aku pun tak mengetahuinya dan aku pun tak berusaha mengetahuinya. Orang
bilang aku cuek, tak ingin mencampuri urusan orang lain, dan aku misterius. Sikap
cuek terhadap masalah orang lain terkadang dinilai cool sehingga banyak
gadis-gadis di sekolah termasuk para primadona sekolah menyukaiku. Namun
meskipun cuek, aku orangnya sealu ingin membantu kepada mereka yang memang
butuh aku dan mau bercerita secara terbuka apa masalah mereka. Tetaplah, aku tetap
tak ingin mencari tahu masalah mereka secara detail kecuali jika mereka memberi
tahuku secara jelas. Namun jangan salah, sikap cuek yang bersemayam dalam
karakterku tidak membuatku seperti orang sombong. Seperti misalnya, saat di
jalan kujumpai nenek tua yang membawa belanja berat langsung kubawakan tanpa
dimintanya meskipun aku hanya diam sambil membawa barang belanjaan mereka tanpa
berusaha tahu nenek itu belanaja apa dan dimana. Aku juga selalu menyapa kepada
setiap orang yang pernah aku temui bahkan hanya sekali ketemu makanya tidak
jarang saat kusapa mereka ada beberapa yang justru bertanya dan merasa asing
kepadaku. Mereka sama sekali tak mengenaliku. Bisa disebut sok kenal dan alhasil hampir satu sekolah mengenaliku. Ya sampai
bisa dibilang aku orangnya peka tapi tidak peka. Aku hanya tak berusaha kepo terhadap setiap urusan manusia
namun aku tetap berusaha menjadi orang yang selalu ada terhadap mereka yang
butuh keberadaanku dan pertolonganku.
Cerpen Percintaan : Pengikut Hidupnya
Pengikut Hidupnya
Sudah geram aku sebenarnya memandang wanita tua itu dengan
gerak-geriknya yang cenderung sama kesehariannya. Tangannya ada bekas luka
karena menghapus tato bertuliskan nama seseorang. Terus saja ia tersenyum
dengan sorotan mata menuju sebuah foto seorang wanita dengan raut muka masih
muda. Sudah kusam potret wanita itu namun tak jemu-jemu baginya memujanya. Kasihan
aku menatapnya. Jika saja dulu ia menunggu sabar wanita itu mungkin tak jadi
begini seharusnya. Ia mungkin tak jadi pergi ke luar negeri. Ia akan menjadi
guru dan tak menjadi orang jalanan di negeri Paman Sam sana. Ia tak harus gila
dan suka tersenyum atau menangis tanpa ada yang membuat salah. Dia sudah tua
namun masih saja dibuat cemoohan anak-anak kecil. Tetap kuingatkan dia untuk
memakan obatnya yang sudah menjadi kebiasaan. Aku tahu itu tak enak namun itu
lebih baik dibanding ia harus masuk rumah sakit kejiwaan lagi.
Jumat, 17 April 2015
Cerpen Remaja : Masa Depanku
MASA DEPANKU
Sudah sering kukatakan sedari dulu
terhadapnya. Bukan dia pria yang tepat untuknya. Namun biarlah, nasi sudah
menjadi bubur. Tak pernah baginya menuruti nasihatku dan kini hubungannya telah
berlanjut hingga ikatan pernikahan. Semua keluarga berat melepasnya namun ini
sudah menjadi keputusannya sedari dulu dan tak ada yang bisa kami perbuat
kecuali merelakannya pergi. Lagi pula dia sudah dewasa dan begitu mencintainya.
Dia juga bukan Siti Nurbaya yang mencari pasangan saja harus mengikuti
perjodohan.
Minggu, 05 April 2015
Cerpen Remaja : KAWAN DUNIA LAIN
KAWAN DUNIA LAIN
Sebenarnya aku benar-benar tak tega
melihat sahabatku ini menangis dengan kerasnya seperti melihat keluarganya
dibakar hidup-hidup oleh warga. Ranti terus saja memohon ampun untuk
teman-temannya. Meskipun kami yang ada pada saat itu yang bersamanya
benar-benar tak melihat apa pun kecuali Ranti, orang di sekeliling kami, dan
pepohonan itu.
Jumat, 06 Maret 2015
Cerpen Percintaan : Hati Ingin Apa yang Dia Ingin
HATI INGIN
APA YANG DIA INGIN
Betapa senangnya hati ini, setelah
usahaku menanti kepulangan mereka dari benua biru sudah berhasil. Segala macam
pernak-pernik tentang Eropa, mereka tenteng untuk anaknya yang sudah rela
ditinggal sepuluh hari melancong. Ada sepatu Italy yang pasti berharga mahal
dan terbuat dari kulit asli. Sebenarnya aku tak minta lebih, aku hanya ingin
cerita mereka tentang hari-harinya di Eropa sana. Mereka baru saja pulang dari
pernikahan sahabatnya di Belanda. Sangat senang hati papa dan mamaku karena
ikut merasakan betapa bahagianya hati sahabatnya yang menikah itu. Bagaimana
tidak, usianya yang sudah tua dan sudah selayaknya punya cucu itu baru saja
menikah dengan kekasihnya. Terlebih keinginannya untuk menikah dengan orang
yang pantas dan sesuai hatinya baru saja ia wujudkan.
Cerpen Keluarga Menyedihkan : Gaza dan Kenangan Kakak
Gaza dan
Kenangan Kakak
Foto dengan bingkai indahnya tergeletak di atas meja dan terus
tak henti-hentinya dipandangi Ifa (23). Air mata bercucuran keluar dari kedua
kelopak matanya. Kakaknya, Umi, dirinya, dan adiknya, Ali tengah saling
beranagkulan dalam foto kusam tersebut. Mereka tampak saling mencintai dan
peduli satu sama lain. Digenggamnya jilbab kusam milik kakaknya tempo dulu.
Dipandangnya langit-langit rumah di Kota Berlin, Jerman sambil tersenyum ikhlas
merona pasrah akan kuasa Tuhan yang Maha Esa.
Minggu, 01 Maret 2015
Cerbung Keluarga dan Inspirasi : Bintang Bersinar untuk Bapak Part 2
Bintang Bersinar untuk
Bapak Part 2
Seminggu telah berlalu dan ia berkunjung
ke kampung menengok bapaknya yang sedang sibuk dengan pasien otomotifnya. Ia
memang berjanji ke bapaknya akan pulang ke Kampung Selayu setiap hari Sabtu.
Bapaknya terlihat sumringah melihat kedatangan anaknya dan tak ada tanda-tanda
orang sakit. Raka agak sedikit tenang melihat bapaknya yang masih sehat dan
masih bisa diajaknya bermain bola secara
pelan mengingat kondisi kedua kaki palsu bapaknya yang sudah rapuh. Raka pulang
sampai rumah sore hari menjelang ashar dan bergegas bermain bola dengan bapaknya
sampai adzan maghrib. Ia segera bergegas bertolak ke kota pagi harinya. Seperti
tak kenal lelah Raka ini. Banyak cerita yang ia bagikan ke bapaknya. Seperti
cerita tentang guru dan pelatih barunya, teman sekolah serta teman setim sepak
bolanya, dan tak kalah lagi tentang keseruannya saat bertanding bola. Banyak
orang dan pengalaman baru yang ia peroleh.
Cerbung Keluarga dan Inspirasi : Bintang Bersinar untuk Bapak Part 1
Bintang Bersinar untuk Bapak Part 1
Sukses memang sebuah kata yang semua
orang pasti mendambakannya. Namun sukses bukanlah orang yang bergelimang harta
atau mereka dengan jabatan berlapis. Untuk sukses cukup menjadi bintang yang
bersinar dengan terangnya di langit sana tanpa ada yang mampu meredupkannya,
yaitu salah satunya menjadi juara di hal yang disukainya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2019
(13)
- ▼ 09/22 - 09/29 (3)
- ► 09/01 - 09/08 (1)
- ► 07/28 - 08/04 (3)
- ► 07/21 - 07/28 (1)
- ► 07/07 - 07/14 (5)
-
►
2018
(1)
- ► 04/22 - 04/29 (1)
-
►
2016
(20)
- ► 03/13 - 03/20 (2)
- ► 03/06 - 03/13 (10)
- ► 02/28 - 03/06 (6)
- ► 01/10 - 01/17 (2)
-
►
2015
(133)
- ► 12/13 - 12/20 (5)
- ► 10/18 - 10/25 (8)
- ► 10/11 - 10/18 (6)
- ► 10/04 - 10/11 (1)
- ► 09/27 - 10/04 (7)
- ► 09/20 - 09/27 (5)
- ► 09/13 - 09/20 (5)
- ► 09/06 - 09/13 (15)
- ► 08/30 - 09/06 (11)
- ► 07/12 - 07/19 (10)
- ► 06/14 - 06/21 (3)
- ► 06/07 - 06/14 (6)
- ► 05/31 - 06/07 (28)
- ► 04/12 - 04/19 (12)
- ► 04/05 - 04/12 (1)
- ► 03/01 - 03/08 (10)