Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Cerpen Cinta Menyedihkan : Tujukan Jasadnya Part 2


Tunjukan Jasadnya Part 2
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Baru aku ingat terakhir aku tidur adalah pukul 4 sore kemaren. Itu pun hanya satu jam. Ini yang membuatku semakin lelah. Di kedua mataku seperti ada kunang-kunang.

Cerpen Cinta Menyedihkan : Tujukan Jasadnya Part 1


Tunjukan Jasadnya Part 1
Aku masih bingung kenapa orang ini selalu lalu-lalang di depan rumahku. Orang ini seperti kurang kerjaan. Di tangannya terdapat sebuah patung kuda yang dipegang erat. Dan nampaknya usianya tidak begitu tua dan mungkin hampir sama dengan pamanku. Jika dia waras aku yakin dia seharusnya tidak melakukan hal seperti ini. Bertindak mondar-mandir tidak jelas. Dia bisa mencari uang, entah itu menjadi tukang kayu, kuli, atau mencari sampah. Pekerjaan semacam ini mungkin akan lebih baik daripada melakukan pekerjaan yang tidak jelas seperti ini. Sesekali dia menatapku dan tersenyum sempit kepadaku. Meskipun aku tahu ini bukan ulahnya melainkan ini ulah setan, tapi aku balas saja senyumannya.

Rabu, 09 Maret 2016

Cerpen Keluarga dan Kasih sayang: Hilang Ingatan


Tempat tinggalku memang jauh dari perkotaan dan suasana pedesaan pun masih begitu kental. Saling membantu sesama tetangga masih begitu terjalin di tempat ini. Tak jarang dari mereka yang akan menikahkan anaknya, masih bersifat gotong royong dan tidak ada itu wedding organizer. Masih ada persawahan yang luas, kebun yang besar, dan jarak antarrumah yang begitu jauh. Begitu sulit kulupakan kampung halamanku. Meskipun sudah lama ingin kutinggalkan tempat ini untuk sekadar mencari kerja di luar daerah yang suasanya lebih perkotaan.

Senin, 05 Oktober 2015

Cerpen tentang Lingkungan : Logam dan Kertas yang Merusak Alam


          Tak jenuh-jenuh kupandangi indahnya alam yang menyapa. Mengajarkanku bagaimana aku harus bersyukur dan mengakui kekuatan-Nya. Tak ingin aku segera beranjak dari  tempat ini dan menyiakan moment emas ini begitu saja. Burung-burung kenari berterbangan bermain seperti bocah desa yang masih polos. Dengan gembiranya mereka bersiul menyapaku yang tengah berdiri dengan santainya, seperti ingin mengajakku bermain. Biru warna langit di ujung atas sana sejauh aku memandang. Benar-benar tanpa ada asap kelabu yang merisau penglihatan. Hidungku dimanja dengan hirupan aroma terapi alam, sebuah sejuknya udara pagi. Bibirku semakin mudah melemparkan senyuman tulus dan penuh bangga memandang alam di sekitar daerah sini. Benar-benar asri desaku ini. Ini yang aku mau dari desaku yang terus-terusan hijau, subur, indah, dan permai. Para petani kembali menyapaku dari beberapa arah. Mereka tengah sibuk dengan sawahnya yang penuh padi yang menunjukkan untuk segera dipanen. Kubalas mereka dengan lambaian tangan penuh anggunnya.

Minggu, 14 Juni 2015

Cerpen Persahabatan : Mawar Yang Layu

Mawar Yang Layu
Bumi masih geli menertawakanku yang menangis layaknya bayi yang ditinggal pergi ibunya mencuci baju. Semua yang ada di ruangan ini pun saling berbisik membicarakan aku, gadis 30 tahun yang menangis seperti orang lupa usia. Namun aku tak peduli karena peristiwa sepuluh tahun yang lalu masih ada di kepalaku. Ketika Rani, gadis tanpa kaki mati bunuh diri di depan mataku. Dia rela menusukkan sebuah pisau dapur ke dalam perutnya tanpa menghiraukan aku yang berdiri di sampingnya. Bodohnya aku, sahabat sejak kecilnya tak kuasa menahan pisau berdarah menancap di perutnya. Padahal seandainya aku memang orang yang cerdas dan tanggap mungkin kejadian itu tak mungkin terjadi. Tapi semuanya memang salahku. Sahabat macam apa aku?

Sabtu, 18 April 2015

Cerpen tentang Pengkhianatan : Tipuan Sempurna

TIPUAN SEMPURNA
            Aku tak tega memandang wanita tua itu. Jika usia tuaku akan seperti itu pasti itu sangat sulit. Dia terus mencari dan bertanya-tanya siapa dirinya. Siapa jati dirinya? Dan dimana keluarga dia sebenarnya. Dia harus hidup sendiri dengan ketidaktahuan akan kebenaran jati dirinya. Bahkan dia baru kemaren tahu bahwa ada peristiwa yang sangat suram sebenarnya yang menimpanya. Ketika suaminya akan segera menghembuskan nafas terakhirnya dia ceritakan bagaimana peristiwa yang menimpa istrinya. Namun ceritanya tak lengkap karena sudah keduluan malaikat penyabut nyawa.

Cerpen Remaja : Rumitnya Sebuah Rahasia

Rumitnya Sebuah Rahasia
Dunia yang semakin sesak dengan berjuta manusia dan benda-benda. Mereka yang penuh dengan sejuta misteri dan aku tak boleh mengetahuinya. Dunia memanggilku Rian, anak kelas XII di sebuah SMA di Jakarta tahun 2014. Alasan ibuku memberikan nama kepadaku dengan istilah Rian, aku pun tak mengetahuinya dan aku pun tak berusaha mengetahuinya. Orang bilang aku cuek, tak ingin mencampuri urusan orang lain, dan aku misterius. Sikap cuek terhadap masalah orang lain terkadang dinilai cool sehingga banyak gadis-gadis di sekolah termasuk para primadona sekolah menyukaiku. Namun meskipun cuek, aku orangnya sealu ingin membantu kepada mereka yang memang butuh aku dan mau bercerita secara terbuka apa masalah mereka. Tetaplah, aku tetap tak ingin mencari tahu masalah mereka secara detail kecuali jika mereka memberi tahuku secara jelas. Namun jangan salah, sikap cuek yang bersemayam dalam karakterku tidak membuatku seperti orang sombong. Seperti misalnya, saat di jalan kujumpai nenek tua yang membawa belanja berat langsung kubawakan tanpa dimintanya meskipun aku hanya diam sambil membawa barang belanjaan mereka tanpa berusaha tahu nenek itu belanaja apa dan dimana. Aku juga selalu menyapa kepada setiap orang yang pernah aku temui bahkan hanya sekali ketemu makanya tidak jarang saat kusapa mereka ada beberapa yang justru bertanya dan merasa asing kepadaku. Mereka sama sekali tak mengenaliku. Bisa disebut sok kenal dan alhasil hampir satu sekolah mengenaliku. Ya sampai bisa dibilang aku orangnya peka tapi tidak peka. Aku hanya tak berusaha kepo terhadap setiap urusan manusia namun aku tetap berusaha menjadi orang yang selalu ada terhadap mereka yang butuh keberadaanku dan pertolonganku.

Cerpen Percintaan : Pengikut Hidupnya

Pengikut Hidupnya
Sudah geram aku sebenarnya memandang wanita tua itu dengan gerak-geriknya yang cenderung sama kesehariannya. Tangannya ada bekas luka karena menghapus tato bertuliskan nama seseorang. Terus saja ia tersenyum dengan sorotan mata menuju sebuah foto seorang wanita dengan raut muka masih muda. Sudah kusam potret wanita itu namun tak jemu-jemu baginya memujanya. Kasihan aku menatapnya. Jika saja dulu ia menunggu sabar wanita itu mungkin tak jadi begini seharusnya. Ia mungkin tak jadi pergi ke luar negeri. Ia akan menjadi guru dan tak menjadi orang jalanan di negeri Paman Sam sana. Ia tak harus gila dan suka tersenyum atau menangis tanpa ada yang membuat salah. Dia sudah tua namun masih saja dibuat cemoohan anak-anak kecil. Tetap kuingatkan dia untuk memakan obatnya yang sudah menjadi kebiasaan. Aku tahu itu tak enak namun itu lebih baik dibanding ia harus masuk rumah sakit kejiwaan lagi.

Jumat, 06 Maret 2015

Cerpen Cinta : Hanya Sebuah Kata

HANYA SEBUAH KATA
            Masih saja dia pusing dan tak henti-hentinya berpikir tentang sebuah kenyataan yang membuatnya terus dilema. Ia masih saja menanti dan menunggu apa yang selama ini ia impikan. Jika saja Rafi mau berterus terang dan ungkapkan semua unek-unek terhadapnya mungkin tak semiris ini memandang sahabatku ini. Ia terus mengoceh, berbagi cerita terhadapku hingga mengganggu tidur malamku. Ingin aku pindah kamar saja. Biar, biar dia tidur sendiri dan berbagi cerita dengan dinding. Tapi aku tidur dimana? Sedangkan kontrakan kami hanya ada satu kamar dan tak mau jika tidur malamku saat ini harus di ruang tamu dan ditemani nyamuk-nyamuk jail.

Cerpen Keluarga Menyedihkan : Gaza dan Kenangan Kakak

Gaza dan Kenangan Kakak
Foto dengan bingkai indahnya tergeletak di atas meja dan terus tak henti-hentinya dipandangi Ifa (23). Air mata bercucuran keluar dari kedua kelopak matanya. Kakaknya, Umi, dirinya, dan adiknya, Ali tengah saling beranagkulan dalam foto kusam tersebut. Mereka tampak saling mencintai dan peduli satu sama lain. Digenggamnya jilbab kusam milik kakaknya tempo dulu. Dipandangnya langit-langit rumah di Kota Berlin, Jerman sambil tersenyum ikhlas merona pasrah akan kuasa Tuhan yang Maha Esa.

Minggu, 01 Maret 2015

Cerpen Percintaan Sedih : Bayangmu

BAYANGANMU
            Dia tersenyum manis untuk kekasihnya setelah sekian lama tak berjumpa. Seperti ada kerinduan yang begitu dalamnya dan ada memendam keinginan menyapa dalam waktu yang lama. Dua kekasih yang serasi dan sepertinya keharuan tengah bersemayam. Sang gadis hanya menangis terharu sudah melihat lagi kekasihnya. Seperti ada rasa bersalah yang ada padanya sehingga membuat mereka berpisah.