Tampilkan postingan dengan label Cerpen Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Cerpen Cinta Menyedihkan : Tujukan Jasadnya Part 2


Tunjukan Jasadnya Part 2
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Baru aku ingat terakhir aku tidur adalah pukul 4 sore kemaren. Itu pun hanya satu jam. Ini yang membuatku semakin lelah. Di kedua mataku seperti ada kunang-kunang.

Cerpen Cinta Menyedihkan : Tujukan Jasadnya Part 1


Tunjukan Jasadnya Part 1
Aku masih bingung kenapa orang ini selalu lalu-lalang di depan rumahku. Orang ini seperti kurang kerjaan. Di tangannya terdapat sebuah patung kuda yang dipegang erat. Dan nampaknya usianya tidak begitu tua dan mungkin hampir sama dengan pamanku. Jika dia waras aku yakin dia seharusnya tidak melakukan hal seperti ini. Bertindak mondar-mandir tidak jelas. Dia bisa mencari uang, entah itu menjadi tukang kayu, kuli, atau mencari sampah. Pekerjaan semacam ini mungkin akan lebih baik daripada melakukan pekerjaan yang tidak jelas seperti ini. Sesekali dia menatapku dan tersenyum sempit kepadaku. Meskipun aku tahu ini bukan ulahnya melainkan ini ulah setan, tapi aku balas saja senyumannya.

Selasa, 13 Oktober 2015

Cerpen Tentang Skripsi : Kenangan Perberat Langkah


Aku masih bingung harus berbuat apa-apa. Disaksikan berlembar-lembar kertas yang berserakan tak beraturan, aku masih termenung dalam kamar berukuran 3m x 3m. Ruangan ini benar-benar pengap dan jenuh aku memandangnya. Setelah hampir enam tahun aku bersemayam dalam kamar ini. Sampai baunya benar-benar khas minyak wangiku.

Jumat, 06 Maret 2015

Cerpen Pendidikan : Mereka Tak Tahu tentang Kami

MEREKA TAK TAHU TENTANG KAMI
            Nalarku tak habis pikir mengapa di zaman canggih seperti ini masih saja ada keributan karena masalah pembagian makanan. Masa aku tinggal di sini sudah hampir habis dan tak henti-hentinya kutemukan mereka yang tersakiti karena ulah mereka sendiri. Hampir setiap hari ada yang harus menjadi korban bahkan tak jarang mereka yang mati karena perkelahian ini. Aku menjalankan tugas dari pemerintah untuk ikut memajukan desa ini dengan mengajari mereka yang menjadi bibit-bibit bangsa. Meskipun aku sudah ikhlas namun rasa takut dalam hati masih saja muncul, kalau-kalau aku juga ikut terbunuh oleh sengketa antara desa yang aku tinggali dengan desa tetangga sana. Hanya ada masalah sepele saja selalu mereka selesaikan dengan perang fisik dan akhirnya hanya mempengkeruh keadaan saja. Alhasil penyelesaian tak terampungkan. Kasihan anak-anak yang tak tahu apa-apa yang harus menerima imbasnya. Ikut terluka sedangkan untuk meghindar atau melawan saja mereka tak bisa. Seperti hari ini, yang hanya masalah aliran air menuju sawah saja mereka tak segan mengadakan tawuran dengan menyerang desa yang aku tempati ini.

Cerpen Percintaan : Hati Ingin Apa yang Dia Ingin

HATI INGIN APA YANG DIA INGIN
            Betapa senangnya hati ini, setelah usahaku menanti kepulangan mereka dari benua biru sudah berhasil. Segala macam pernak-pernik tentang Eropa, mereka tenteng untuk anaknya yang sudah rela ditinggal sepuluh hari melancong. Ada sepatu Italy yang pasti berharga mahal dan terbuat dari kulit asli. Sebenarnya aku tak minta lebih, aku hanya ingin cerita mereka tentang hari-harinya di Eropa sana. Mereka baru saja pulang dari pernikahan sahabatnya di Belanda. Sangat senang hati papa dan mamaku karena ikut merasakan betapa bahagianya hati sahabatnya yang menikah itu. Bagaimana tidak, usianya yang sudah tua dan sudah selayaknya punya cucu itu baru saja menikah dengan kekasihnya. Terlebih keinginannya untuk menikah dengan orang yang pantas dan sesuai hatinya baru saja ia wujudkan.

Cerpen Keluarga Menyedihkan : Gaza dan Kenangan Kakak

Gaza dan Kenangan Kakak
Foto dengan bingkai indahnya tergeletak di atas meja dan terus tak henti-hentinya dipandangi Ifa (23). Air mata bercucuran keluar dari kedua kelopak matanya. Kakaknya, Umi, dirinya, dan adiknya, Ali tengah saling beranagkulan dalam foto kusam tersebut. Mereka tampak saling mencintai dan peduli satu sama lain. Digenggamnya jilbab kusam milik kakaknya tempo dulu. Dipandangnya langit-langit rumah di Kota Berlin, Jerman sambil tersenyum ikhlas merona pasrah akan kuasa Tuhan yang Maha Esa.