Jumat, 17 April 2015

Cerpen Remaja : Masa Depanku

MASA DEPANKU
            Sudah sering kukatakan sedari dulu terhadapnya. Bukan dia pria yang tepat untuknya. Namun biarlah, nasi sudah menjadi bubur. Tak pernah baginya menuruti nasihatku dan kini hubungannya telah berlanjut hingga ikatan pernikahan. Semua keluarga berat melepasnya namun ini sudah menjadi keputusannya sedari dulu dan tak ada yang bisa kami perbuat kecuali merelakannya pergi. Lagi pula dia sudah dewasa dan begitu mencintainya. Dia juga bukan Siti Nurbaya yang mencari pasangan saja harus mengikuti perjodohan.

            “Kamu serius Rin, mau menikah dengan Andre?” tanya ayahku terhadapnya.
            “Serius Yah.” Jawabnya.
            “Tapi Nak, ayah tak ingin anak-anakku punya suami anak manja seperti dia.” Tegur ayah.
            “Lhoh bukannya ayah kemaren sudah setuju dan mau saja menerima lamarannya. Tetapi mengapa sekarang berubah sikap?” tanya kakakku.
            “Kemaren ayah hanya spontan.” Bela ayah.
            “Tapi dia bukan anak manja. Keluarganya kaya raya dan itu yang menyebabkan dia terkesan manja. Tapi dia baik dan mau menerimaku apa adanya.” Bela Kak Rindu kembali.
            “Dia berbeda Nak. Dia beda kepercayaan dengan kita Nak.” Tegur ayah kembali meskipun tak dihiraukan kakakku.
            Sering dia siksa kakak perempuanku yang paling besar ini. Meskipun bukan siksa fisik tetapi nyatanya apa yang dinilai oleh ayahku memang benar. Suami dari kakakku masih terlalu manja dan persis seperti layaknya anak-anak. Bahkan sering suami dari kakakku tak pulang ke rumah pemberian orang tuanya itu. Dia justru memilih pulang ke rumah orang tuanya dulu. Dia juga tak punya pekerjaan bahkan untuk menghidupi kakakku saja dia masih meminta ke orang tua. Kasian kakakku ini harus mendapatkan pria seperti dia. Kakakku hanya tertarik dengan sikapnya yang merupakan anak orang kaya. Penilaian dia sewaktu dia masih belia ia bawa hingga dewasa. Menurut kakakku dulu, warisan dari mertuanya sudah bisa menghidupinya meskipun suaminya tidak bekerja. Bahkan wajah imut dari suami kakakku sudah cukup menurutnya menjadi bekal tambah. Dia tidak tahu bahwa sifat manja dan suka hura-hura dari suaminya justru menyiksanya secara perlahan.
            Kakakku lebih tua lima tahun dariku disusul Kak Bayu dan Kak Randi. Dan karena aku adik perempuan satu-satunya, aku sudah dianggap seperti teman curhatnnya. Hampir hari-hari kakakku dipenuhi dengan cerita pahitnya tentang suami barunya itu namun tak pernah kusampaikan cerita ini kepada kedua orang tuaku. Aku hanya takut mereka semakin khawatir terhadap kakakku dan bisa-bisa memperburuk hubungannya yang sakral. Terlebih aku juga takut mungkin ini seperti gejolak emosi dari pernikahan barunya. Mungkin lambat laun sikapnya Mas Andre akan berubah begitu juga dengan sikap Kak Rindu.
            Aku hanya berharap agar jangan sampai nasibku sama dengan kakakku. Meskipun wajah kami terbilang mirip namun tak ingin ceritaku sama sepertinya. Ketika salah memilih pasangan hidup. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan menurutku lebih selektif dalam memilih pasangan itu hukumnya wajib. Bukan seperti Mas Andre yang tak bekerja dan bukan pemimpin yang baik untuk kakakku. Kakakku sering sendiri di rumah barunya karena Mas Andre lebih senang tinggal di rumah orang tuanya.
            “Dek! Kakak malu.” Rengeknya terhadapku.
            “Mengapa memangnya Kak?” jawabku penasaran.
            “Kakak malu jika harus bolak-balik ke rumah ibunya Andre minta uang. Andre selalu bilang kalau butuh uang suruh minta uang ke ibunya. Kakak malu tapi jika kakak minta ayah dan ibu, pasti kakak lebih malu lagi.” Jelasnya.
            Harapan akan masa depanku sangat berbeda dengan Mas Andre tentunya. Karena orang yang aku impikan terbilang sempurna untuk ukuranku. Jauh dari suami kakakku. Meskipun aku masih terlalu muda untuk berpikiran semacam ini, namun menurutku itu sudah penting mengingat pengalaman buruk dari kakakku.
Sosok dengan sifat yang sama dengan impian masa depanku ada di sampingku saat ini. Dia menemani hari-hariku dan menjadi saksi bagaimana perjuangan kerasku meraih mimpi suksesku. Dia baik dan penyayang serta tak pelit seperti suami dari kakakku. Semua kemauanku pasti beliau penuhi. Dia memanjakan aku dengan sikap lemah lembutnya yang penuh tanggung jawab. Dia penyabar dan tenang menanggapi sifat kanak-kanakku.
Dia mampu menjadi imam bagi keluarga. Membimbing keluarganya menuju jalan yang benar. Satu hal yang paling aku suka darinya, yaitu ketika ia tuntun aku menuju suatu hal yang benar serta memberi semangat saat kulelah meraih mimpi. Apa yang keluar dari mulutnya membawa hawa positif yang membuatku ingin bangkit.
            Wajahnya juga tampan dan pasti tak ada yang menandinginya. Begitu tampannya hingga tak ada orang yang lebih tampan dari wajahnya. Dia bermuka tenang dan begitu bijaksana. Sederhana namun berwibawa. Baginya senyum sudah cukup meningkatkan kualitas wajahnya. Apalagi profesinya yang sebagai dokter seakan seperti pangeran yang akan menolong jiwa manusia. Wajah ia miliki semakin rupawan dengan otaknya yang pintar. Hati yang putih, tulus, wajah yang rupawan, dengan kepintaran yang ia miliki seakan membuat hati ini semakin mengaguminya.
            Dia yang seperti ini yang tak henti-hentinya memberi nafkah untuk keluarga. Baginya keluarga adalah segalanya. Mendidik istrinya dan anak-anaknya seakan menjadi tugas terbesar dalam hidupnya. Dia pasti tak ingin menjadi ayah yang gagal dan ingin sekali sebagai contoh ayah yang baik untuk anaknya.
            Aku ingin sosoknya yang bisa bermain alat musik. Tetapi tidak hanya itu, dia juga pintar dalam segaa hal. Segala pekerjaan yang ada di dunia ini pasti bisa ia lakukan. Apalagi dalam hal membuat senang keluarganya, dia ini jagonya. Membuat bangga keluarganya akan dirinya merupakan impiannya. Tak ingin baginya kecewakan keluarganya.
Tunggu dulu sosok tadi hanya impianku saja. Aku sangat menghormatinya. Sosok tadi adalah ayahku. Rasa hormatku terhadapnya tak mungkin laki-laki persis seperti itu aku miliki. Mungkin hanya mirip karena sosok seperti beliau hanya ayahku yang punya. Dan kalian jangan salah paham karena aku hanya mengidolakan sosok dari ayahku. Ingin bagiku memiliki masa depan dengan karakter yang sama dengan ayahku.
            “Udahan dulu ya ngerjain tugasnya.” Tegurnya memintaku.
            “Bentar dulu nanggung.” Pintaku menolak.
            “Sholat dulu. Nanggung juga lho. Kalau kita menunda-nunda nanti sholat kita juga nggak diawal waktu.” Nasihatnya.
            Dia yang aku sebut seperti ayahku. Semoga saja dia akan mengisi hidupku persis seperti mimpiku di suatu kelakku. Sangat ingin bagiku agar pria ini yang nantinya menjadi masa depanku. Ya meskipun tidak 100% sama dengan ayahku tetapi banyak yang bilang bahwa kekasihku ini seperti reingkarnasi dari ayahku. Apalagi dia yang juga teman baikku di kampus juga seorang calon dokter. Keluargaku sangat senang aku memiliki temannya sepertinya.
            Aku hanya memohon kepada Tuhan untuk selalu berikan yang terbaik untuk masa depanku nanti. Ya yang seperti ini. Seseorang yang pantas menjadi ganti dari ayahku. Yang selalu sabar dan tenang dalam mendidik keluarganya menuju jalan yang benar. Dan biarkan untuk kakakku karena harus berjodoh dengan seorang lelaki yang sudah menjadi pilihan di hidupnya.
TAMAT

Tag = #Cerpenkeluarga #CerpenRemaja #CerpenPercintaan #CerpenKasihSayang

Tidak ada komentar: