Jumat, 17 April 2015

Cerpen Remaja Percitaan Monsternya bebebku Part 2

Monsternya Bebebku Part 2
Hari itu Eki dan Yusuf sengaja makan bersama di sebuah restoran yang memang agak menguras kantong mereka. Maklum hari ini Yusuf sedang melunasi nazarnya untuk ngajak Eki makan di tempat yang mahal jika ia menang kuis bola di Indosiar. Namun acara makan berdua saja tinggal rencana, Yusuf yang cerewetnya bukan main tentunya punya teman yang lebih cerewet juga. Dia bernama Radit dan ada orangnya di restoran tempat mereka bertemu. Bagaikan tamu yang tak diundang namun ada saja bahan obrolan untuknya dengan Yusuf. Eki yang sama sekali tak mengenal siapa manusia doyan cuap-cuap ini bahkan tak sekali pun ia ditegur sapa. Radit tak sama sekali mengajaknya bicara bahkan tanya namanya. Ia hanya pesan makanan dan langsung bicara dengan Yusuf tentang bola, otomotif, jaman mereka SD sampai SMA, sampai gosip selebriti cantik terupdate idola mereka. Eki pun jadi BT sendiri. Ingin baginya membungkam mulut satu pria ini dan menyuruhnya untuk tidak minta bayaran makanan ke pacarnya lalu pergi. Yusuf pun yang memang sangat akrab dengan Radit begitu saja menjadikan Eki seperti kambing congek.

Akhirnya Eki yang sudah lama termenung dan terkagum karena ternyata ada manusia tipe seperti ini pun memberanikan untuk angkat bicara, “Mas-mas aku gantian ngomong boleh?” tanya Eki ke Radit sambil mencoleknya.
“Oh ya boleh dong Mbak. Mau ngomong apa?” tanya Radit sambil menghadap muka Eki. “Oh Mbaknya pacarnya Yusuf ya Mbak? Sering lhoh Yusuf cerita tentang Mbak dan ternyata teman saya ini emang jarang bohong karena Mbak nggak terlalu cantik seperti yang Yusuf ceritakan.” Ucap Radit yang membuat Eki tertegum dan merasa risih dengan Yusuf. “Oh ya Mbak saya sudah tahu banyak tentang Mbak dari Yusuf dan profil Mbak di facebook jadi tak perlu Mbak menceritakan diri Mbak ke saya. Oh ya saya juga sudah jadi temen Mbak di facebook lhoh. Tapi wajah Mbak nipu nggak kaya di foto facebook yang sedikit aja cantik, sedikit aja tapi. Santai aja Mbak saya ini teman deketnya Yusuf. Yang tahu hubungan kalian berdua cukup saya aja....” Radit melanjutkan obrolannya tentang siapa dirinya ke Eki tanpa memberikan peluang bagi Eki untuk juga berbicara. Dalam hati Eki berbicara, “Ya Allah nih orang egois banget. Ngomong mulu, kapan gue ngomong? Temen deketnya boleh ngomong, kok gue enggak?”
Radit ini ternyata teman curhat Yusuf yang memang sudah sedari kecil mereka bersama mengingat rumah mereka yang tetanggaan. Sedari SD sampai SMA mereka dalam satu kelas sehingga rasa canggung keduanya tak terlihat. Namun di bangku kuliah ini mereka tak lagi di kelas yang sama karena Radit memilih untuk bekerja setelah lulus dari SMA, di sebuah bengkel dekat kosan mereka. Namun meskipun demikian, suasana persahabatan mereka tetap terbina dalam satu atap kosan yang sama. Cerewet memang sudah kesan pertama yang menjadi sifat si Radit ini, namun ternyata selain cerewet manusia ini juga aneh, gretonger, dan perhatian sampai kelewat menjadi kepo. Sangking cerewetnya dan keponya pria satu ini, dengan serta merta ia membeberkan ke Eki tentang sifat Yusuf  sebenarnya. Dari mulai bagaimana keluarga Yusuf, kenakalan-kenakalan Yusuf, dan perjalanan karier dan cinta Yusuf sampai saat ini.
Ada suatu kebanggan dari diri Eki mendengar penjelasan Radit tentang perjalanan cintanya, “Mbak Yusuf ini tak punya mantan lho selain Mbak. Eh kok Mbak sih? Mbak ‘kan masih pacar ya hehe.” Eki merasa tersanjung dan percaya bahwa selama ini Madona bukanlah siapa-siapa baginya. Atau memang Yusuf menganggap Eki spesial karena pacar pertamanya justru tak begitu saja diceritakan ke sahabatnya, lain dengan dirinya yang langsung saja Yusuf ceritakan ke sahabatnya. Yusuf hanya tersipu malu mendengar sahabatnya menghina dan menyanjung dirinya. Ia hanya tersenyum dan tertawa keras sesekali.
Pertemuan itu bukanlah menjadi pertemuan singkat atau hanya sampai di situ saja. Bahkan kisah mereka menjadi tiga sahabat dimana di dalamnya ada kisah cinta, yaitu antara Yusuf dan Eki. Eki yang awalnya agak risih dengan Radit justru semakin dekat karena sifat keduanya yang sok kenal. Radit jadi sering tegur sapa dan berkomunikasi dengan Eki. Bahkan kuantitas bagi Eki untuk berkomunikasi dengan Yusuf hampir sama dengan obrolan bersama Radit mengingat susahnya memutus pembicaraan dengan Radit. Awalnya Radit dan Eki hanyalah saling tegur sapa di pesan di facebook namun kian lama mereka sering berbicara lewat telepon bahkan sengaja bertemu berdua di warung makan atau kafe. Eki memang sengaja mencari tahu lebih banyak informasi tentang Yusuf dari Radit dan tak ada maksud lain sedangkan Radit hanya ingin melakukan kebiasaan lamanya yang memang sering tebar-tebar pesona ke semua orang sekaligus ngerjain Yusuf dengan menguak rahasianya. Tapi tak satu pun apa yang diceritakan tentang Yusuf, membuat Eki ilfil atau sakit hati ke Yusuf bahkan hanya menambah rasa penasarannya sehingga mengharuskannya untuk bertemu kembali dengan Radit. “Em selain dia menerapkan pola hidup sehat dengan tak merokok serta mengkonsumsi mie instan dia ini juga ....” ucap Radit yang tak dilanjutkan. “Bersambung, besok aja ya buat Lo penasaran. Pokoknya ini tentang watak ibu Yusuf. Hehe.” Lanjut Radit membuat Eki penasaran dan mengajaknya kembali bertemu. Radit ini memang lihai sekali membuat Eki butuh dengannya dan ingin bertemu lagi. Namun ternyata seringnya mereka bertemu sama sekali tak diketahui Yusuf dan akan sangat fatal jika tiba-tiba ia mengetahuinya.
Hari-hari seperti bapak-ibu tukang gosip telah lama Eki dan Radit kerjakan. Tetapi kali ini Radit lebih segan menelepon Eki lebih dulu, “Halo Eki apa kabar? Ada berita terbaru buat kamu nih. Tahu nggak kalau hari ini ibu Yusuf lagi ulang tahun makanya dia lagi bingung mau nyari kado ulang tahun apa buat ibunya. Paling bentar lagi dia bakal ngajak Lo ke pasar buat nyari kado ibunya.” Jelas Radit tanpa biarkan Eki ungkapkan apa yang menjadi unek-unek dalam hatinya. “Thut...thut...thut...”, begitulah bunyi telepon sehabis percakapan diusaikan. Jelas pendek namun membuat Eki penasaran dan meneleponnya lagi.
            “Eh Lo apaan sih? Gimana, gimana?” tanya Eki dengan raut penasaran.
            “Oh maaf pulsa limited nih. Jadi hari ini ibunya Yusuf ulang tahun. Lo belum pernah ketemu ibunya ya? Tahu nggak sih ibunya Yusuf tuh galaknya nggak karuan. Cerewet abis pokoknya. Apalagi kalau sama calon mantu kaya Lo. Ibu baik kaya dia itu tuh yang wujud luarnya aja yang kaya monster tapi hatinya putri salju. Temen ceweknya Yusuf aja pernah dilabrak padahal mereka nggak pacaran. Itu tuh si Madona atau siapa gue lupa. Termasuk gue. Gue juga pernah dimarahin gara-gara itu tuh dia pergi dari rumah ke neneknya di Solo. Katanya ajakan gue padahal emang iya. Sampai bentrok keluarga dia ama keluarga gue meskipun akhirnya baikan lagi. Hehe.” Jelas Radit panjang lebar dengan kecepatan bicara kaya pesawat luar angkasa dan penuh semangatnya membuat Eki gundah-gelisah.
            “Serius Lo?” tanya Eki penasaran.
            “Iya lah. Walah kalau dia ngomong sepatah-dua patah kata hati Lo mengkerut jadi roti tawar jamuran tahu. Apalagi Lo yang dibilang calon menantu pasti galaknya lebih lagi. Dia ‘kan nggak mau kalau terjadi apa-apa sama anaknya.” Jelas Radit lagi.
            Tiba-tiba suara telepon kembali berbunyi lain, “thut...thut...thut....” Pertanda pulsa Eki habis. Obrolan yang suram dan pulsa yang sia-sia karena hanya memberikan fasilitas ngobrol gratis saja untuk Radit.
            Suara ketukan pintu terdengar dan membuat Eki penasaran. Eki sudah menebak akan kedatangan Yusuf dan memang benar apa yang sudah menjadi tebakannya. Sontak Yusuf mengajaknya untuk pergi.
            “Ke pasar?” tanya Eki penasaran.
            “Yo,a.” Jawab Yusuf yang langsung saja ia pegang tangan Eki dan membawanya pergi.
            Baru kali ini kepergian mereka tak dengan mobil atau motor Yusuf. Cukup dengan kendaraan umum warna kuning mereka beranjak. Suasana angkot menjadi semakin berisik begitu ada dua manusia ini. Semua menjadi terdiam dan orang-orang di situ hanya menguping saja apa yang tengah hot menjadi cerita Eki dan Yusuf.
            “Kok ke stasiun si Suf? Emang kita mau pulang. Besok gue mau ke Jogjanya. Orang duit gue belum abis juga. Nyokab gue nggak kangen gue, gue juga belum kangen nyokab gue kali!” seru Eki yang menolak  diajak Yusuf ke stasiun.
            “Siapa juga yang mau nyuruh Lo pulang. Kita emang mau ke Jogja tapi ke rumah nyokap gue. Gue mau kenalin Lo ke nyokab gue. Kalau habis itu Lo mau pulang ke nyokab Lo ya terserah.” Tutur Yusuf yang sontak membuat Eki tertegun begitu kerasnya.
            Eki memang tak menolak hendak diajak Yusuf menemui orang tuanya. Namun apakah sanggup ia digertak oleh seekor singa yang lepas dari pedalaman. Apalagi jika mendengar cerita Radit yang meskipun agak sedikit ngawur dan menurutnya agak kelebihan muatan. Hatinya semakin berdebar dan merasa canggung dengan Yusuf. Tak ada obrolan dengan Yusuf melainkan pikirannya yang tergambar seorang wanita dengan bermuram durja tiba-tiba melotot bermuka merah dan taring di giginya. Ya gambaran ibu Yusuf. Sama-sekali tak ada persiapan dalam dirinya. Rasa cemasnya sampai dibawa ke dalam mimpi hingga membangunkan tidur semua orang di dalam gerbong kereta.
            “Hati semakin tak tahu hendak berbuat apa. Aliran darah sejenak berhenti dengan seketika. Detak jantung begitu kencang dan kerasnya seperti pukulan bedug masjid dekat rumahnya. Apalagi sesampainya di rumah Yusuf yang dari pagarnya saja sudah berdiri tegak dan kokoh seperti untuk menjaga singa agar tak bisa keluar dari rumah dan mencelakakan orang banyak.
            “Assalamualaikum!” Yusuf mencium tangan seorang ibu-ibu dengan rambut keriting lebat hitam sebahu, kacamata bulat dengan rantainya, lipstik merah merona, make up tebal, dan tipas begitu besarnya.
            Nyali Eki menciut memandang ibu-ibu bermuka kejam seperti ini. Cantik namun sadis persis seperti cerita Radit. Hatinya mendadak berubah menjadi sebutir pasir begitu memandang alis ibu-ibu ini yang hitam lebat dan menyambung antara kanan dan kirnya.
            “Eki ya? Pacarnya Yusuf? Anak mana? Semester berapa? Ngambil jurusan apa? Orang tuanya kerja apa? Ipk terakhir berapa?” Pertanyaan yang bertubi-tubi keluar dari mulut ibu brangas ini tanpa senyum dalam bibirnya.
            “Iya Bu. Saya anak Jogja juga. Sekarang semester 5 di Ekonomi. Orang tua jualan bisnis online Buk. IPK terakhir 3 kurang Bu.” Jawab Eki dengan ragu dan tak ada rasa keberanian.
            “Oh! Yusuf buatkan minum terus bantuin Pak Bejo cuci mobil sama cuciin ya koleksi guci saya di kamar nenekmu. Awas jangan sampai pecah jumlahnya ratusan lhoh.” Perintah ibu ini ke Yusuf.
            Seperti tak bernurani, ibu ini langsung memberikan setumpuk tugas untuk seorang anak laki-laki yang baru saja keletihan dari perjalanan jauh. Susah sekali bagi Eki menelan air liurnya dan tertegun melihat kesadisan seorang ibu yang katanya sayang terhadap anaknya. Ia tak tahu harus berbuat apa, jika dengan anak kandungnya saja ia sudah berbuat seperti itu apalagi dengannya. Ibu itu langsung melanjutkan obrolan yang panjang lebar dengan segudang pertanyaan yang memojokkan Eki. Sudah seperti suasana sidang Eki disodori seratus pertanyaan dengan setiap pertanyaan membutuhkan jawaban panjang lebar. Dari mulai bakat dan riwayat organisasi menjadi salah satu pertanyaan yang harus ia jawab. Bahkan satu gelas sirup jeruk yang dibuat Yusuf akan sangat kurang untuk membasahi tenggorokannya dalam menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi. Ini benar bahwa ibu ini seperti monster yang siap menerkamnya. Eki hanya berpikir bagaimana bisa Yusuf hidup dengan seorang ibu seperti ini sedangkan dia yang berbincang-bincang selama dua jam saja keringatnya sudah panas dingin. Dengan satu pernyataan tegas dan sindiran yang menghina ini sudah saja membuat Eki sakit hati. Jika Eki diizinkan ingin saja baginya berteriak dan memanggil nama Yusuf yang memang sedang menjalankan tugas.
            Ini sudah penyiksaan secara halus, ia harus dijejali dengan setumpuk pertanyaan, pernyataan, dan sindiran yang tajam tanpa diberi makan siang hingga pukul telah menunjukkan pukul 14.00. Sudah tiga jam mereka berdua terlibat percakapan sengit.
            “Gimana nih asyik banget ngobrolnya?” tanya Yusuf yang tiba-tiba datang dengan muka kusamnya.
            “Asyik mbakmu,” balas Eki dalam hati dengan cukup tersenyum terhadapnya.
            “Udah Suf,” seru Ibu dengan memandang wajah Yusuf begitu dalamnya. “Pacarmu ini lho, nggak mutu,” sindirnya tanpa senyum sedikit pun lalu pegi hendak menengok guci-gucinya.
            “Udah bersihin gucinya?” tanya Eki dengan wajah merah.
            “Orang tinggal sedikit kok. Dibantuin Pak Bejo juga jadi lumayan. Gimana ngobrol sama Budhe Mira?”
            “Budhe? Itu budhemu bukan Ibumu?” Tanya Eki penasaran agak sedikit lega.
            “Oh itu Budhe gue. Orangnya sedikit galak dan emang agak sadis juga sih. Tapi baik kok. Gue kasihan ama dia makanya gue mau aja disuruh-suruh ama dia. Dia habis dari Solo. Di sini paling seminggu. Udah nggak punya anak ama suami gara-gara kecelakaan. Semenjak itu dia jadi amnesia makanya sifatnya jadi angker gitu. Kalau nyokab gue tuh baru aja pulang tapi lewat belakang begitu tahu ada tamu. Yuk gue kenalin!” Ajak Yusuf dengan menyeret saja tangan Eki.
            Belum lama ia melegakan apa yang mengusiknya namun ia diharuskan menemui orang yang memang benar-benar ia takuti saat ini. Ujian terbesar selanjutnya membuat nyalinya hilang dan tak tahu harus berbuat apa. Jika boleh ingin baginya untuk pamit dari rumah penuh pertanyaan ini.
Begitu bertemu dengan ibunya, sangat kejutan baginya jika ternyata seperti ini wujud asli ibu Yusuf. Sangat berbeda dengan Yusuf yang banyak bicara dan ceria. Ibu yusuf sangat pendiam dan tak satu patah pun keluar dari mulutnya kecuali “Iya” dan “tidak”. Eki yang tak mau suasana ini menjadi garing dan krik-krik terus saja memutar otaknya untuk mengajaknya bicara meskipun gagal dan masih iya dan tidak yang keluar dari mulut ibu Yusuf. Suasana canggung masih mewarnai atmosfir di sana. Eki bingung harus mengarahkan pembicaraan kemana sedangkan Yusuf malah pergi dan sibuk dengan kucingnya di sana. Jangankan bicara, ibu Yusuf pun enggan menatap bola mata Eki. Eki malah bingung bagaimana perasaan ibu ini terhadapnya. Apakah suka atau kecewa atau malah menjadi suatu perkenalan yang mengharukan. “Yuk kita ngobrol dalam hati Bu!” pintanya dalam hati namun tak disampaikan dalam nyata. Bagaimana bisa waktu dua jam hanya ada cerita dalam hati dan tak sepatah pun kalimat keluar dari mulut ibu ini. Sangat berbeda dengan apa yang dibilang Yusuf bahwa ibunya sangat ramah atau menurut Radit yang bilang bahwa ibu Radit seperti monster. Yang ada ini seperti ratunya monster yang hanya cukup diam saja semua monster-monster anak buahnya langsung paham apa yang menjadi maunya.
Eki menjadi putus asa dan diam untuk beberapa menit. Dia ingin bicara tentang bola tapi apa calon mertuanya itu akan paham dan mengerti apa yang dibicarakan.
“Em ibu tahu tentang sepak bola tidak?” tanya Eki basa-basi.
“Eki, gini ya....” Tanggap ibu Yusuf yang cukup membuat Eki senang karena tak lagi kata-kata monoton yang keluar dari mulutnya. “Eki, gini ya kamu bisa diam nggak? Dari tadi saya tak senang kamu ngomong apa. Soalnya saya memang tak tertarik dengan pembicaraan kamu. Saya juga lagi pusing semua harga sembako naik jadi saya lagi pusing bagaimana saya harus mengatur biaya bahan baku di restoran saya. Saya kirain kamu anak ekonomi pembicaannya akan mengarah ke situ tapi ternyata hampir 2 jam saya tunggu belum juga kamu mengarah ke situ.” Seru ibu Yusuf yang dengan sikap lemah lembutnya mengungkapkan isi hatinya.
Memang benar apa yang menjadi pikiran Eki. Ini dia biangnya monster. Diam-diam menghanyutkan. Tak perlu banyak jurus untuk matikan lawan. Satu tembakan saja lawan sudah mati kutu tak berkutik.
Tak beberapa lama secuil kalimat yang keluar dari ibu Yusud, Yusuf datang dan menghampiri kedua orang ini. Eki sudah sangat lega jadi ia tak sendiri lagi terlihat kikuk di situ. Menurut dugaan Eki memang benar bahwa sebenarnya ibu Yusuf ini orangnya ceria karena begitu ada Yusuf sontak saja ia mendadak banyak bicara. Mungkin ia hanya canggung saja jika dihadapkan pada orang yang belum pernah sekali pun ia temui.
Pertemuan yang sangat tak membuat Eki nyaman. Eki ingin marah dengan Yusuf namun tak mungkin baginya karena Yusuf terlihat ceria dan seperti tah tahu bagaimana perasaannya yang remuk tak berbentuk begitu menghadapi sikap keluarganya. Baginya mungkin ini yang disebut kasih sayang keluarga terhadap anak tunggal. Yusuf seperti senang bukan kepalang begitu mengetahui bahwa seperti tak ada konflik antara Eki dengan ibunya.
Hingga keesokan harinya. Waktu menunjukkan pukul 07.00 berlatar di kamar Eki di kediaman orang tua kandungnya. Eki terus memikirkan pertemuan konyolnya di rumah Yusuf. Ingin baginya memutar waktu agar semua itu tak terjadi demikian. Terdengar dering handphone Eki yang di layarnya bertuliskan Yusuf.
“Maafin aku jika kali ini aku nggak pake istilah gue dan lo lagi melainkan aku dan kamu. Mungkin ini adalah pembicaan kita terakhir di saat kita berstatus pacaran. Ibuku menyuruh buat aku melupakan semua tentangmu. Usia kita masih muda dan menurut silsilah keluargaku. Anak-anaknya harus segera menikah jika ia sudah berani pacaran, karena keluargaku nggak ingin mengarah ke hal keburukan. Kamu tahu ‘kan aku masih ingin mengejar masa depanku. Aku masih ingin selesai kuliah S1, kemudian mengejar cita-citaku S2, dan mengejar S3 ku. Kalau kamu masih ingin lanjut maukah kamu menungguku hingga hari suksesku nanti. Aku S1, S2, dan S3 dua kali untuk sarjana mesin dan sarjana komunikasi karena dua bidang itu yang aku suka. Setelah itu aku ingin kerja selama lima tahun untuk membahagiakan orang tuaku. Aku nggak ingin menikah sebelum sukses. Lagi pula maafkan aku, kata orang tuaku, membawamu adalah suatu penyesalan karena kamu nggak masuk kriteria standar menantu ibuku. Terimakasih sudah menjadi teman cowokku yang mau berdebat tentang bola. Aku nggak mau kamu menunggu begitu lama. Jadi lebih baik kita putus aja.” Bunyi pesan singkat yang ternyata panjang juga rupanya.
Eki tak bisa berbuat apa. Jika itu memang sudah mau Yusuf dia sanggup saja menjalaninya. Lagi pula jika ia sudah tak bersama Yusuf takkan ada lagi monster bebebku untuk kesekian kalinya kecuali kesalahan teknis.

TAMAT

Tag = #Cerpen Remaja #Cerpen Cinta #Cerpen Bahasa Indonesia #Cerita Pendek #Cerita Bersambung #Cerbung Remaja #Cerbung Cinta #Cerbung Bahasa Indonesia


Tidak ada komentar: