Sabtu, 18 April 2015

Cerpen Penyesalan : Yang Terlupakan

YANG TERLUPAKAN
            Bapak-bapak itu masih saja melanjutkan ceritanya terhadapku. Kasian beliau dan tak tega aku mendengar ceritanya yang harus terperangkap dalam penyesalan yang mendalam. Kecil dan terkadang terabaikan manusia namun itulah mereka yang lalai betapa pentingnya hal yang kecil itu. Dan itulah pelajaran yang bisa kupetik dari cerita bapak-bapak itu.

            Penyesalan yang susah untuk diperbaiki secara sempurna. Andai orang itu bisa ulangi waktu yang telah terlewat mungkin itu akan membuatnya lebih baik. Usia kecilnya sangat tak menyenangkan karena harus kehilangan kasih sayang seorang ayah. Ibunya memilih pergi dari rumah dan meninggalkan ayah kandungnya. Ibunya tak ingin hidup melarat dan mendapat perlakuan tak baik dari suaminya terus-menerus. Ia menikah dengan duda anak lima. Berat sebenarnya jika ia harus berbagi kasih sayang seorang ibu dengan kelima saudaranya yang sebenarnya benar-benar tak ia inginkan.
            Hatiku benar-benar bersyukur karena jalan hidupku tak seburuk orang ini. Ketika ia disiksa ayah tirinya sedangkan ibunya tak tahu-menahu betapa miris penderitaan yang anaknya alami. Yang ibunya ketahui hanyalah semua kemauan anaknya sudah terpenuhi ayah tirinya. Ibunya baru tahu setelah biru-biru di sekujur tubuh anaknya kian menjadi sehingga mengharuskannya pergi dan memilih berceria dengan suaminya. Ia sudah tak mungkin lagi kembali mencari ayah kandungnya dan tak mungkin pula bagi ibunya merengek-rengek kembali ke suaminya dulu. Ia sudah benar-benar kehilangan seorang ayah dan tak tahu lagi harus meminta perlindungan seorang ayah ke siapa. Lagi pula rasa trauma juga sudah muncul dari ibunya.
            Ia besar seperti tak terarah. Ibunya sudah jarang ia temui. Bagaimana tidak, ia sekolah dari pagi dan kembali ke rumah sore hari. Sedangkan ibunya sibuk bekerja dan pulang malam hari. Ia rindu akan sosok ibunya yang dulu. Ibunya seakan tak peduli dengannya. Yang ia temui di bangun tidurnya bukannya sosok ibunya, melainkan masakannya yang sudah tersaji di atas mejanya. Ibunya harus banting tulang dengan penghasilan yang rendah. Uang yang didapat sama sekali tak sebanding dengan tenaga yang ia keluarkan. Hidupnya semakin melarat dan tak layak dalam kehidupan manusia di hiruk-pikuk Kota Jakarta. Ini seperti balasan atas apa yang dibuat ibunya. Meskipun ayahnya selama ini memang melarat serta bertabiat kasar dan tak baik perlakuannya terhadapnya namun ia masih saja ayah dari anaknya. Sedangkan jika dia kembali dan menemui ayahnya mungkin sudah tak bisa karena ayahnya sudah bahagia dengan istrinya yang lebih muda dari ibunya..
            Sesekali ibunya sengaja menghabiskan waktu untuk seharian dengan anaknya. Tapi apa? Bukan untuk melepas rasa kangen tapi itu ia lakukan hanya untuk menghajar anaknya setelah dirinya mendapat laporan tak baik tentang ulah anaknya dari gurunya. Ia memang benar-benar sayang dan sangat mencintai anaknya. Namun tak seharusnya ia menghajar anaknya. Seharusnya ia merasa bersalah karena tak begitu saja berdiam seharian di rumah untuk mendidik dan memeriksa gerak-gerik anaknya.
            Ibunya benar-benar keras dan ketakutan anaknya terhadap ibunya membuatnya semakin terikat dan tersekap dalam aturan ibunya. Ia terus belajar karena tak ingin ibunya kecewa dan marah seperti yang dulu. Ia tumbuh dewasa dengan sifat mandirinya dan tak bisa bermain seperti anak-anak lain. Bahkan sudah sering ia menuntut ibunya karena tak terima atas pemberian ibunya. Satu mainan yang ia miliki dari SD sampai tumbuh dewasa hanya sebutir kelereng yang harganya lebih murah dibanding kelereng anak-anak lain.
            Ia sering merasa berbeda dengan anak lain. ibunya yang begitu kerasnya, membuatnya berhati-berhati dalam menjalani kehidupan. Seiring tumbuhnya ia menjadi dewasa, hidupnya harus sendiri. Ibunya yang pergi ke Malaysia semenjak ia SMA membuatnya lupa akan sosok ibunya. Hidup menjadi seorang remaja yang semua kebutuhan ia penuhi sendiri. Ibunya tak sepenuhnya memperhatikan anaknya tumbuh berkembang.
            Ia sering menjadi bingung saat pihak dimana ia menuntut ilmu menginginkan bertemu ibunya. Rasa marahnya terhadap ibunya begitu dalam. Ia tak tahu jika selama ini usaha yang dilakukan ibunya hanyalah semata-mata untuk penuhi kebutuhan hidupnya. Namun amarahnya yang besar terhadap ibunya, membuat pikirannya tidak sampai di situ. Benaknya hanya butuh kasih sayang dari seorang ibu, bukanlah materi atau kiriman uang dari ibunya di negeri jiran sana. Padahal ibuya bekerja untuk bekalnya menuju masa depan. Menyekolahkan dia hingga menjadi seorang sarjana. Dan bekerja menjadi direktur utama.
Ibunya menemuinya di saat acara pernikahannya dan itu akan menjadi pertemuan terakhir karena tak ingin ibunya tinggal di rumah anaknya. Ibunya tak enak hati menemui wajah anaknya setelah beberapa tahun ia tinggalkan. Kini ia sudah tua renta dan terlihat pucat dengan badan yang tinggal kulit dan tulang. Ia tersenyum bahagia melihat anaknya sudah mapan dan mempunyai keluarga. Usahanya yang gigih mencari uang untuk pendidikan anaknya tidak berjalan sia-sia. Doa yang dibacakan untuk anaknya telah didengar oleh Tuhan. Dan kini tinggal gilirannya menyaksikan anaknya hidup bahagia.
Namun rupanya masih ada rasa amarah di benaknya. Mereka terlihat canggung. Bahkan anaknya memperlakukan ibunya seperti tamu yang lain. Tak ada yang istimewa untuknya. Itu seperti akibat setelah apa yang diberikan untuk anaknya selama itu. Ibunya pun menganggap maklum, melihat anaknya tersenyum bahagia saja sudah membuat senang di hatinya. Ia ditelantarkan sendiri di desa. Tak ada keinginan anaknya mengajak tinggal bersama bahkan menjenguknya pun tak segan. Ia hanya kirimkan sejumlah uang untuk membeli beras dan biaya pengobatan. Bahkan karena tidak mau terbukanya ibunya akan penyakitnya, membuat anaknya tak merasa kuatir. Bagi ibunya hanya dengan uang penyakitnya akan sembuh dengan sendirinya.
Ibunya tak ingin membuat anaknya merasa resah dan kerepotan. Lagi pula biarkan anaknya hidup sendiri dengan istri dan anak-anaknya. Makanya ia rela tinggal sendiri dan disibukkan dengan aktivitas merawat tubuhnya dan penyakit yang dideritanya. Baginya kiriman uang dari anaknya sudah cukup dan bahkan lebih besar jumlahnya dari pada kiriman uang yang ia berikan di saat anaknya kecil. Ia merasa tak mampu memberi lebih untuk anaknya. Mungkin sebutir kelereng itu sudah lebih dan sudah sangat mewah untuk mainan anaknya.
Kini hanya tinggal penyesalan. Penyesalan yang akan dibawa mati. Kasih sayang untuk ibunya hanyalah sebuah kiriman uang. Dulu ia berpikir memberi uang saja akan cukup bagi ibunya. Kini ibunya telah di dalam tanah sana. Akhiran dari penderitaan penyakitnya. Tak pernah kasih sayang atau wujud perhatian untuk ibunya ia berikan. Bahkan di saat ibunya menghela pernapasan terakhir saja ia tak ada di sana.
Baginya di saat usia kecilnya hanya uang yang ia dapatkan dari ibunya dan makanya ia bertindak seperti itu. Tapi dia lupa bahwa ibunya bertindak seperti itu dan pergi ke luar negeri karena demi masa depannya. Kasih sayang yang begitu dalamnya membuatnya rela tak bertemu buah hatinya. Mungkin hanya sebutir kelereng, namun di dalamnya ada sebuah kasih sayang yang ia berikan. Tapi apa? Tak ada kasih sayang yang ia berikan untuk ibunya di saat usia senjanya. Ia meremehkan suatu yang kecil. Kini penyesalan yang ia simpan . Ibunya menjadi suatu yang terlupakan dan aku berharap ibunya bahagia di alam sana.
TAMAT
Tag = #CerpenKeluarga #CerpenNasihat #CerpenSedih #CerpenPenyesalan #CerpenKehidupan


Tidak ada komentar: