Minggu, 05 April 2015

Cerpen Remaja : KAWAN DUNIA LAIN

KAWAN DUNIA LAIN
            Sebenarnya aku benar-benar tak tega melihat sahabatku ini menangis dengan kerasnya seperti melihat keluarganya dibakar hidup-hidup oleh warga. Ranti terus saja memohon ampun untuk teman-temannya. Meskipun kami yang ada pada saat itu yang bersamanya benar-benar tak melihat apa pun kecuali Ranti, orang di sekeliling kami, dan pepohonan itu.

            Ranti mengalami gejolak hebat untuk itu akhir-akhir ini ia lebih sering bermain ke ladang dekat pohon besar yang ada di belakang rumah kami. Di sana, dia mendapat kawan baru dan orang yang setia mendengar semua ceritanya. Menurutnya, kawannya memang sosok sahabat terbaik yang juga siap saja untuk melaksanakan semua perintahnya. Dia sudah tak tahu lagi akan menghabiskan waktu liburnya dengan siapa kecuali dengan sahabat barunya itu. Sejak neneknya yang agak sering emosi berlebih terhadapnya, juga Fedi yang sudah tak peduli lagi terhadapnya dan lebih peduli denganku, ia seakan putus asa dan lebih sering termenung karena keadaan yang menimpanya. Seakan di dunia ini sudah tak ada lagi yang peduli lagi terhadapnya kecuali mereka sahabat barunya itu.
            Dia gadis dari kota yang pulang ke kampung hendak menengok sang nenek juga dua sahabat kecilnya, aku dan Fedi. Kami bersahabat sejak usia kami masih terlalu dini. Dia yang merupakan kakak sepupuku harus meninggalkan persahabatan dan tanah kelahirannya karena harus ikut orang tuanya yang dipindahkan tugas ke kota. Berat baginya kala itu meninggalkan kami. Terlebih harus meninggalkan Fedi yang kala usia sekecil itu sudah ada rasa simpati terhadapnya. Namun bagaimana pun ia harus meningglakan kami, dua sahabatnya yang begitu ia cintai untuk tugas menuruti kemauan dari orang tuanya.
            Dia pulang ke desa untuk meneruskan kisah cinta monyetnya sewaktu SD antara dia, aku, dan Fedi. Iya harus ada aku karena Fedi lebih tertarik terhadapku. Terlebih Fedi lebih sering bertatap muka terhadapku ketimbang dengan Ranti yang sudah besar dengan hiruk-pikuk udara kota. Namun tetaplah persahabatan ini masih harus ada karena bagi kami apa pun itu tak akan merusak kisah indah tiga anak manusia ini. Biarkan ego Ranti harus ia pendam sedalam mungkin agar tak lagi ada yang merasa tersakiti kecuali dirinya.
            Teman-teman dan keluarganya di kota seakan tak peduli lagi dengan gadis ini. Inilah pula yang membuatnya pergi saja ke tanah kelahirannya sewaktu kecil selain akan menengok aku, Fedi, dan nenek. Orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan bisnis mereka sehingga sulit baginya mencari waktu untuk berbagi kasih sayang bersama anaknya. Hanya bisnis, uang, dan pamor yang menjadi buah bibir mereka dan sama sekali bukan pendidikan anaknya atau pertumbuhan anaknya. Ranti merasa tersia-siakan karena harus terus berteman dengan pembatunya di rumah. Itu membuat Ranti, sahabatku yang tak bersalah ini harus bersikap kasar dan menganggap uang adalah segalanya. Ia rela membayar teman untuk menemani menghabiskan waktu kesehariannya. Seakan dunia hanya ada uang, sahabat setia bayaran, dan barang mewah. Bahkan untuk berbagi kecerian dengan orang sekitar saja ia tak minat. Ranti menjadi sedikit otoriter dengan orang-orang di sekelilingnya dan ini bukanlah watak Ranti saat dirinya kecil.
            Sahabat mana yang masih setia dengan seseorang sedangkan statusnya hanyalah seorang teman bayaran. Perlakuan semena-mena Ranti yang menganggap dirinya sebagai penguasa dan merasa menjadi bos membuat teman-temannya seakan pergi dengan sendirinya. Ranti yang kala itu sering memberikan perlakuan dan ucapan tak mengenakkan hati kepada temannya membuatnya kehilangan kepedulian. Sekilas hidupnya terlihat sempurna. Dengan status putri tunggal orang kaya dan calon pewaris tunggal tentunya. Apalagi dengan wajah yang cantik bak bidadari dengan jasmani yang sehat dan barang mewah membuat hidupnya terlalu sempurna. Apalagi ketika dia harus dikelilingi oleh sahabat yang seakan begitu peduli dan begitu menghormatinya. Namun semua itu salah. Selama ini dia merasa rapuh menjalani kerasnya dunia ini. Peran orang tua yang hanya sebatas materi juga kawannya yang mengharapkan sesuatu membuatnya haus kasih sayang.
            Itulah yang membuatnya memutuskan pulang saja ke kota kecilnya dulu. Berharap mendapat kasih sayang dari sahabat kecilnya kala itu juga peran orang tua meskipun hanya sebatas dari seorang nenek yang dulunya begitu memanjakannya.  Pikirnya setidaknya semua itu sudah membuat lega gejolak batin yang hinggap pada di dirinya.
            “Fedi?” kita ke sungai yuk! Mencari ikan.” Ajaknya dengan Fedi yang kala itu tengah sibuk membereskan potongan kayu serpihan bekas pembuatan kursi.
            “Nggak Ran. Aku sibuk.” Tolaknya secara lembut.
            “Alah alesan aja kamu.” Bantah Ranti.
            “Aku sedang bersihkan potongan kayu ini. Nanti Pak Lurah marah.” Tolaknya kembali.
            “Ih kamu. Pak Lurah tidak akan marah.” Serunya kembali mengajak.
            “Sungai sedang kering mana ada ikan di sana.” Jelas Fedi menolaknya.
            “Kamu jahat!” marah Ranti yang langsung saja berlari.
            “Hai Ranti seharusnya kamu jangan marah! Aku berkata sejujurnya.” Bela Fedi kembali.
            “Alah percuma.” Marah Ranti kembali.
            “Kamu seharusnya jangan sembarangan menganggap aku sebagai orang jahat. Tapi kamu yang seharusnya instropeksi! Ini di desa tidak lagi di kota. Jaga sopan santun kamu juga!” Marah Fedi sambil menasihati.
            Rupanya Ranti belum terlalu mampu beradaptasi dan membedakan mana suasana kota dan mana suasana desa. Kemarin ia bertemu dengan sesepuh di kampung ini. Dia terlihat canggung dan bahkan membalas permintaan sesepuh untuk bersalaman saja dia enggan. Entah tak ingin melakukan atau ia tak tahu bagaimana etika saat bertemu orang. Hingga membuat neneknya yang kala itu mengajaknya sampai tak enak hati bertemu dengan sesepuh kampungnya lagi. Ia merasa malu mempunyai cucu yang adab dan sopan santun saja tak paham.
Ia kini tak tahu harus bersikap manja dengan siapa. Denganku tak mungkin karena semenjak sikap Fedi yang tak begitu simpati lagi dengannya membuatnya sedikit risih dengan keberadaanku. Apalagi dengan Fedi yang sepertinya sudah sedikit kecewa dengan sikap sahabat kecilnya ini. Fedi sangat tak suka dengan seorang gadis dengan gelagat kasar seperti Ranti ini. Juga sifat pemalasnya dan sering membantah perintah neneknya ini membuat perlakuan neneknya jauh berbeda ketika saat ia pertama kali datang ke sini. Neneknya jadi lebih sering ngomel dan sangat menunjukan rasa tak senangnya terhadap keberadaan Ranti.
“Nduk tolong nasinya ditaruk di meja.” Perintah neneknya terhadap Ranti.
“Nggak!” tolaknya.
“Ya udah kalau nggak mau. Tolong buatin simbah teh.” Perintahnya kembali.
“Hih Simbah apaan sih? Aku ke desa cuma mau refreshing Mbah!” kembali tolaknya.
“Kamu disuruh apa-apa nggak mau. Disuruh makan mau. Mbok yo bantuin simbah. Kamu tuh anak perempuan harus tahu dapur. Kalau kamu nggak mau bantuin simbah ya percuma kamu pulang ke desa. Seharusnya kamu juga belajar biar tambah pinter.” Nasihat Simbah.
“Bantuin Simbah? Emang aku pembatu?” tanya Ranti sambil menghela pergi.
Neneknya saat itu benar-benar sakit hati mendengar ucapan dari cucunya. Dia lebih sering berdiam diri dan seakan tak peduli lagi dengan keberadaan cucunya yang dari kota itu. Prinsipnya yang terlalu kental tentang hakikat sorang wanita sangat berolak belakang dengan karakter Ranti yang pemalas. Neneknya lebih sering bermuram durja dan perasaan Fedi yang lebih condong terhadapku membuat Ranti sering termenung di ladang dekat pohon besar itu. Kala ia pergi karena bosan mendengar nasihat dari neneknya dia pergi ke ladang dekat pohon besar itu dan justru lebih sering menghabiskan waktu di situ. Di sana dia mendapat teman baru yang sering disebutnya bernama Galang saat aku tanyai.
“Kak Ranti, habis dari mana?” tanyaku terhadapnya.
“Mau tahu aja.” Jawabnya ketus.
“Aku harus tahu. Aku saudaramu. Lagi pula aku sangat khawatir melihat kau jadi sering termenung di pohon besar itu.” Jelasku.
“Sudahlah. Di sana aku sudah mendapat teman baru. Dia bernama Galang. Sante aja dia lebih tampan dan perhatian ketimbang Fedi. Dia mau saja mendengar segala ceritaku. Kamu seharusnya bahagia dong aku sudah punya teman baru dan lebih baik dari kalian dan sahabatku di kota. Bilang simbah perutku sudah kenyang karena diberi makan tadi sama Galang.” Ucapnya.
Sejak saat itu aku sudah curiga dengan apa yang menimpanya. Awalnya dia pergi pagi dan pulang larut malam namun keadaannya jadi lebih sering mengkhawatirkan karena terkadang dia bisa sampai dua hari tak pulang ke rumah. Sulit bagiku mencegah terlebih dia sepertinya sudah jatuh cinta dengan pria penunggu pohon besar itu yang dia sebut bernama Galang. Aku sempat berpikir kalau makanan yang ia makan dan ia sebut itu berasal dari Galang mungkin saja cacing, ulat, dedaunan, tanah liat, atau serpihan kayu pohon. Sudah berulang kali dia pergi ke sana hingga sudah satu minggu dan sering aku tengok dia yang tengah asyik terlibat percakapan dengan angin atau bercakap tanpa lawan bicara. Dia seperti orang gila dan terlalu berharap punya pacar atau sahabat khayalan.
Dia seperti mendapatkan pelajaran baru di sana. Sepertinya perasaan dan minat Ranti untuk bersosialisasi sudah kian tumbuh meskipun itu berasal dari makhluk luar sana. Dia mejadi sedikit ramah dan meskipun terlihat aneh karena terkadang menjadi sering tertawa sendiri. Bahkan dia bercakap dan bercanda sendiri yang kala itu justru tak mempedulikan aku yang berada di sana. Ketika larut malam kami hendak bermimpi, Ranti yang kala itu juga berbaring di sebelahku justru tak henti-henti menceritakan tentang Galang yang sama sekali aku tak tahu siapa dia. Dia terlalu bangga dengan sahabat barunya yang berasal dari dunia astral. Bahkan yang membuatnya semakin aneh sering ia membawa makanan dari rumah untuk ia bawa ke pohon besar itu yang katanya akan diberikan ke Galang. Aku yang sering mengintip dia mencuri makanan dari rumah untuk diberikan ke Galang cukup saja aku rahasiakan karena jika nenek tahu pasti dia akan marah besar. Bahkan tak jarang aku lihat sisa makanan yang ia bawa di pohon besar itu sudah di makan ayam tetangga.
            Neneknya semakin khawatir dengannya. Satu sampai dua minggu mungkin sudah biasa namun jika dibiarkan berlarut-larut pasti membuatnya semakin tidak baik. Mungkin memang ada perubahan baik dari Ranti namun tak menutup kemukinan jika makhluk goib yang membawa perubahan terhadapnya justru akan membuatnya celaka. Aku, Nenek, dan Fedi segera bergerak untuk mencari orang pintar yang ahli dalam hal demikian. Dengan harapan dapat mengusir si Galang. Awalnya aku tak percaya dengan hal demikian namun melihat perlakuan Ranti yang kian aneh memaksaku untuk percaya. Pagi buta aku dan nenek secara diam-diam pergi ke pohon besar itu untuk melaksanakan ritual bersama Fedi dan Pak Ustad yang ahli dalam hal demikian. Kami sengaja agar tak diketahui Ranti.
            Namun usaha kami telah diketahui Ranti sebelumnya. Ketika kami dan warga di desa kami hendak pergi di pohon besar itu Ranti sudah berada di pohon itu. Kami seakan tak percaya dan dia lebih terlihat seperti tengah berdebat dengan angin.
            “Pergi! Keselamatanmu terancam!” seru Ranti.
            Ternyata ilusinya sudah terlalu dalam selama ini. Fedi yang langsung bertindak cepat begitu saja menyeret tangan Ranti untuk pergi menjauh dari pohon itu. Meskipun sangat susah namun terus saja Fedi berusaha membawanya pergi.
            “Jangan bakar!” teriak Ranti dengan histerisnya. Dia menangis dengan kencangnya dan terus melawan. Tenaganya yang besar ditambah perasaan emosinya yang berkobar membuatnya terlepas dari pegangan erat Fedi dan berlari mendekati kobaran api menyala. Hingga tangannya sedikit terbakar karena masuk ke dalam panasnya api seperti hedak menolong sahabatnya. Fedi dengan sigap kembali menangkapnya untuk membawa pergi ia dari daerah situ hingga ia memilih jatuh pinsan.
            Sejak itu dia berubah dan lebih senang berbagi cerita dengan kami yang di sekelilingnya. Dia seakan mendapat kepribadian baru dengan canda dan tawanya. Biarlah masa lalunya bersama Galang ia kenang dan menjadi memori tersendiri. Menempel lukisan seorang laki-laki di kamar kami yang ia beri nama Galang. Terimakasih kalian dunia lain yang sedikit telah merubah sifat buruk sepupu perempuanku ini. Galang, kawan dari dunia lain membawa dunia baru untuk Ranti yang kini hidupnya tidak lagi menjadi gadis penyepi.
TAMAT

Tag = #CerpenMisteri #CerpenRemaja #CerpenPersahabatan #CerpenCinta

Tidak ada komentar: