Minggu, 06 September 2015

UJI ASUMSI KLASIK

UJI ASUMSI KLASIK

1.         Uji Multikoliniaritas
1.1.       Pengertian
Uji multikoliniaritas adalah uji asumsi klasik untuk melihat apakah ada atau tidak hubungan antarvariabel independen dalam suatu model regresi berganda. Karena apabila hubungan antarvariabel independen itu tinggi, maka bisa jadi pengaruh salah satu variabel independen tersebut mempunyai pngaruh yang lebih besar terhadap variabel independen yang satunya daripada variabel dependen yang digunakan dalam model regresi tersebut.

1.2.       Faktor-faktor Penyebab
a.   Menggunakan data time series, karena terdapat kemungkinan regresor-regresor yang diikutsertakan memiliki kelembaman (trend) yang serupa, yaitu mereka yang sama-sama meningkat atau menurun seiring berjalannya waktu.
b.   Metode yang kurang tepat dalam pengumpulan data yang digunakan.
c.    Sampel penelitian terlalu sedikit atau kecil.
d.   Terdapat batasan yang ada pada model atau populasi yang diambil sampelnya.
e.    Kesalahan spesifikasi model. Misalnya, menambahkan istilah polinomial pada model regresi, khususnya ketika jangkauan variabel  X kecil.
f.     Model yang overdetermined. Dimana, variabel penjelas lebih banyak daripada jumlah observasi.
1.3.       Cara Penyembuhan
a.   Menambah jumlah data dalam observasi (n).
b.  Menghilangkan salah satu variabel independen-nya.
c.   Transformasi data.
d.  Menggabungkan data cross section dan time series (pooling data).
e.   Gunakan model dengan variabel independen yang mempunyai korelasi tinggi hanya semata-mata untuk prediksi (jangan mencoba untuk mengintrepesentasikan koefisien regresinya).
f.    Gunakan metode analisis yang lebih canggih seperti Bayesian regression dalam kasus khusus untuk ridge regression.


1.4.       Langkah-langkah Menguji dengan E-views
a.   Sebuah data yang telah dimasukkan ke dalam E-views dimana Y merupakan variabel dependen, X1 independen 1, dan X2 independen 2.
b.  Klik Quick  » Estimation Equation.
c.   Lalu ketik: log(Y) C log(X1) log(X2)
d.  Catat jumlah R2 hasil estimasi tersebut.
e.   Klik Quick » Estimation Equation.
f.    Ketik log(X1) C log(X2)
g.   Catat jumlah R2 hasil estimasi tersebut.
h.  Klik Quick » Estimation Equation.
i.     Ketik log(X2) C log(X1)
j.     Catat jumlah R2 hasil estimasi tersebut.
k.  Bandingkan nilai R2 hasil estimasi pertama dengan hasil R2 estimasi kedua dan ketiga.
1.5.       Pengambilan Keputusan
a.   R2 estimasi I (R2t). R2 astimasi II R2t1. R2 estimasi II R2t2.
b.  Bandingkan nilainya, apabila R2t > R2t1 dan R2t2. Maka, tidak ada multikolinieritas dalam model regresi yang dipakai. Sebaliknya, apabila R2t < R2t1 dan R2t2. Maka, ada multikolinieritas dalam model regresi yang dipakai.
1.6.       Referensi:
a.   Gudjarati, Damodar. 1993. Dasar-dasar Ekonometrika. Jakarta: Salemba Empat.
b.  Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: UNDIP Press.
c.   Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito Bandung.
d.  TIM Penyusun Jurusan EP. Panduan Pratikum Aplikom. Unnes.

2.         Uji Normalitas
2.1.       Pengertian
Adalah uji asumsi klasik untuk melihat apakah variabel pengganggu atau nilai residual yang ada dalam sebuah model regresi memiliki distibusi normal atau tidak. Model regresi yang baik (tidak bias) adalah model yang memiliki nilai residual berdistribusi normal.
2.2.     Faktor-faktor Penyebab
a.   Data terlalu ekstrim, karena terlalu banyak nilai-nilai ekstrim dalam satu set data akan menghasilkan distribusi skewness (miring).
b.   Kemungkinan terdapat data terlalu ekstrim tersebut dikarenakan kesalahan menentukan pengukuran, kesalahan data entry, dan outlier.
c.      Tumpang tindih dari dua atau lebih proses.
d.     Kurangnya data terdiskriminasi
e.      Nilai-nilai dalam data banyak yang mendekati nol, sehingga akan menyebabkan distribusi data akan miring (skewnes) akan ke kanan atau ke kiri.
f.       Data mengikuti distribusi yang berbeda, seperti distribusi weilbull, log-normal, largest extreme value, exponensial, poisson, dan binomial.
2.3.       Cara Penyembuhan
a.    Jika jumlah sampel besar, maka dapat menghilangkan nilai outliner dari data.
b.    Melakukan transformasi data.
c.    Menggunakan alat analisis non-parametric.
d.   Apabila Skewnes miring disebabkan karena banyak nilai dalam data yang mendekati nol, maka transformasi seperti tenaga transformasi Box - Cox, dapat membantu membuat data normal, dimana semua data dinaikkan, atau diubah, dengan eksponen tertentu, ditunjukkan dengan nilai Lambda. Ketika melakukan transformasi, semua data harus dilakukan perlakuan (diubah) yang sama.
2.4.       Langkah-langkah Menguji dengan E-Views
a.   Sebuah data yang telah dimasukkan ke dalam E-views dimana Y dependen, X1 independen 1, dan X2 independen 2.
b.  Klik Quick  » Estimation Equation.
c.   Lalu ketik: log(Y) C log(X1) log(X2)
d.  Dari hasil estimasinya, klik View » Residual test » Histogram » Normality Test » OK.
e.   Catat Hasil Uji Jaque Bera (J-B).
f.    Kemudian bandingkan dengan X2 dengan derajat bebas (df) yang sesuai (ilmu soshum biasanya 5%).


2.5.       Pengambilan Keputusan
Bandingkan nilai Jaque Bera (J-B) hasil estimasi dengan nilai X2 tabel yang diperoleh. Apabila uji J-B < X2 tabel, maka tabel berdistribusi normal. Atau sebaliknya, jika uji J-B > X2 tabel, maka data berdistribusi tidak normal.
2.6.       Referensi:
a.    Gudjarati, Damodar. 1993. Dasar-dasar Ekonometrika. Jakarta: Salemba Empat.
b.    Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: UNDIP Press.
c.    TIM Penyusun Jurusan EP. Panduan Pratikum Aplikom. Unnes.

3.      Uji Heteroskesdasitas
3.1.       Pengertian
Uji heteroskesdasitas adalah uji asumsi klasik untuk melihat apakah model regresi yang dibuat memiliki tingkat persebaran (varians) yang konstan atau tidak dari nilai residual pengamatan satu ke pengamatan lainnya.
3.2.     Faktor-faktor Penyebab
a.    Sejalan proses belajar (the error-learning models) manusia, kesalahan (error) perilaku makin mengecil seiring berjalannya waktu. Dalam kasus ini, varians akan mengecil.
b.    Kesalahan teknik pengumpulan data seperti metode pengumpulan sampel.
c.    Kesalahan spesifikasi model, seperti:
·        Kesalahan spesifikasi model yang dikarenakan menghilangkan variable penting dalam model.
·        Kesalahan tranformasi data (mis. Rasio / first diff)
·        Kesalahan bentuk fungsi (mis. Linier vs log-linier model).
Sedangkan menurut Kepeel dan Wicknes dalam http://avstatistik.blogspot.com ada tiga faktor penyebab adanya heterokesdasitas; pertama, penentuan taraf atau klasifikasi dari faktor (variabel independent), misalnya jenis kelamin, varietas, mempunyai keragaman alami yang unik dan berbeda; kedua, manipulasi faktor perlakuan yang menyebabkan suatu objek (tanaman, peserta, dsb) mempunyai karakteristik atau perilaku yang cenderung lebih sama atau berbeda dibandingkan dengan kontrol; ketiga, keragaman dari respons (variabel dependent) berhubungan dengan ukuran sampel yang kita ambil. Keragaman bisa menjadi serius apabila ukuran sampel tidak seimbang (Keppel & Wickens, 2004).
3.3.       Cara Penyembuhan
a.   Melakukan transformasi data, baik transformasi variabel dengan mode regresi biasa maupun model regresi logaritma.
b.  Dengan menggunakan aplikasi E-Views, yakni menggunakan metode White dan Newey-West yang merupakan metode koreksi stkitard error. Langkahnya adalah Klik Quick » Estimation Quation » Option lalu pilih Heterokesdasticity Consistent Covariance » White atau Newey White.
3.4.       Langkah-langkah Pengujian dengan E-Views
Menggunakan fasilitas Uji White. Ada dua versi; no cross term dan cross term.
a.   Sebuah data yang telah dimasukkan ke dalam E-views dimana Y dependen, X1 independen 1, dan X2 independen 2.
b.  Klik Quick » Estimation Equation.
c.   log(Y) C log(X1) log(X2
d.  Klik View/ residual test.
e.   Pilih heteroskesdesitasticyti Test» White.
f.    Pada bagian bingkai, klik include white cross term. » OK.
g.   Hampir sama dengan langkah nomor 5 tetapi include white cross term-nya tidak dipilih.
h.  Kemudian tentukan df X2 hitung pada no cross term dan cross term. Dengan cara mengkalikan R2 masing-masing (cross term dan no cross term) dengan jumlah data.
i.     Cari X2 -tabel untuk no cross term dan cross term.
j.     Kemudian Bandingkan antara X2 tabel dan X2 hitung.
3.5.       Pengambilan Keputusan
Apabila X2-tabel > X2 hitung, maka hipotesis yang mengatakan adanya heteroskesdasitas dalam model ditolak. Sebalinya, jika X2 tabel < X2 hitung, maka hipotesis yang menyatakan bahwa model regresi bebas dari masalah heteroskesdasitas ditolak.
3.6.     Referensi:
a.   Gudjarati, Damodar. 1993.Dasar-dasar Ekonometrika.Jakarta: Salemba Empat.
b.  Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: UNDIP Press.
c.   TIM Penyusun Jurusan EP. Panduan Pratikum Aplikom. Unnes.
d.  http://avstatistik.blogspot.com/2012/12/one-way-anova-analysis-of-variance.html

4.         Uji Autokorelasi
4.1.       Pengertian
Uji autokorelasi adalah uji asumsi klasik untuk melihat apakah ada korelasi antara residual pengamatan satu dengan pengamatan lain dimana pengamatan tersebut dilakukan menurut rentetan waktu (time series). Jika ada korelasi antara pengganggu pada periode t dengan periode t-1 (sebelumnya) berarti ada problem korelasi.
4.2.       Faktor-faktor Penyebab
a.   Kesalahan dalam pembentukan model (pure autocorrelation).
b.  Adanya kesalahan spesifikasi dimana tidak memasukkan variabel yang penting (pure autocorrelation).
c.   Manipulasi data.
d.  Menggunakan data yang tidak empiris.
e.   Terjadi pada data time series, dimana residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya.
4.3.       Cara Penyembuhan
Jika regresi yang telah dibuat memiliki autokorelasi, maka ada beberapa opsi penyelesaiannya antara lain:
a.   Tentukan apakah autokorelasi yang terjadi pure autocorrelation atau bukan karena kesalahan spesifikasi model regresi dimana ada variabel penting yang tidak dimasukkan ke dalam model atau dapat juga karena bentuk fungsi persamaan regresi tidak benar.
b.  Jika yang terjadi adalah pure autocorrelation, maka solusi autokorelasi adalah dengan mentransformasi model awal menjadi model difference.
c.   Jika tidak terjadi pure autocorrelation, semisal karena adanya kesalahan dalam mengentri data, manipulasi data, dan data yang diteliti tidak empiris, maka diteliti terlebih dahulu, jangan manipulasi data, dan cari variabel yang lebih penting mempengaruhi variabel dependen, bisa jadi variabel pengganggu (residual) adalah variabel yang lebih penting pengaruhnya terhadap variabel dependen.
4.4.       Langkah-langkah Pengujian dalam E-views
Apabila menggunakan metode Lagrange Multi-player:
a.   Sebuah data yang telah dimasukkan ke dalam E-views dimana Y dependen, X1 independen 1, dan X2 independen 2.
b.  Klik Quick » Estimate Equation
c.   Ketik log(Y) C log(X1) log(X2)
d.  Untuk menentukan apakah ada atau tidak autokorelasi serta arah autokorelasi yang terjadi dapat mencatat nilai Durbin Watson (DW) pada hasil estimasi tersebut.
e.   Dari hasil estimasinya, Klik View » Residual Test » Serial Correlation LM Test
f.    Akan muncul kotak dialog Lag Spesification.
g.   Isi lag to  include dengan derajat bebas (df) berapa pun (< jumlah data).
h.  Perhatikan X2 dengan df yang telah ditentukan tadi pada Obs*R-squared sebagai X2-hitung. Kemudian, tentukan X2-tabel dengan df yang sama.
i.     Untuk menentukan arah autokorelasi, maka dapat menentukan DW up (DU) dan DW low (DL) yang terdapat di tabel dengan memperhatikan jumlah sampel (n) dan jumlah variabel (k).

4.5.       Pengambilan Keputusan
Jika X2 tabel > X2 hitung, maka persamaan regresi lolos dari autokorelasi, dan sebalinya, apabila X2 tabel < X2 hitung, maka persamaan regresi tidak lolos dalam autokorelasi.
Untuk menentukan arah autokorelasi dapat dilakukan dengan melakukan metode Durbin Watson:
·        DW > DL; berarti ada korelasi positif atau kecenderungannya ρ = 1.
·        DL ≤ DW ≤ DU; tidak dapat diambil keputusan apa-apa.
·        DU < DW < 4 - DU; tidak berkorelasi poistif maupun negatif.
·        DW > 4 - DL; berarti ada korelasi negatif.
4.6.       Referensi:
a.   Gudjarati, Damodar. 1993.Dasar-dasar Ekonometrika.Jakarta: Salemba Empat.
b.  Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: UNDIP Press.
c.   TIM Penyusun Jurusan EP. Panduan Pratikum Aplikom. Unnes.

5.         Uji Liniaritas
5.1   Pengertian
            Uji liniaritas adalah uji asumsi klasik untuk melihat apakah model regresi yang dibuat memiliki hubungan linearitas signifikan atau tidak. Dengan adanya uji liniaritas, maka akan diperoleh informasi apakah model yang telah dibuat sebaiknya linear, kuadrat, atau kubik. Sementara itu, syarat dalam metode Ordinary Least Square (OLS) adalah adanya linearitas baik dalam parameter maupun dalam variabel. Oleh karena itu, apabila model regresi yang dibuat tidak memiliki hubungan linear secara signifikan, maka model yang telah diestimasi tesebut bias (punya penyakit).
5.2.  Faktor Penyebab
a. Kekeliruan eksperimen atau galat eksperimen.
b. Biasanya terjadi pada data nominal atau ordinal.
c. Jumlah anggota populasi/sampel kecil.
d. Grafik perpencaran data tidak lurus/tidak berbentuk linear.
e. Distribusi data tidak normal.

5.3.  Cara Mengobati
a. Apabila model diketahui bahwa persamaan yang digunakan non-linear, tidak ada yang salah. Hanya saja, apabila diestimasi dengan metode Ordinary Least Square (OLS), maka regresi tersebut menjadi bias. Oleh karena itu, jangan menggunakan metode Ordinary Least Square.
b. Karena data tidak cocok untuk persamaan regresi linear, maka gunakan model regresi non-linear, seperti; model parabola kuadratik, model parabola kubik, dan lain sebagainya.
c. Jangan menggunakan data nominal atau ordinal, karena data nominal atau ordinal merujuk pada statistik non-parametrik yang merupakan persamaan non-linear. 
5.4.  Langkah-langkah Pengujian Menggunakan Eviews
Uji Ramsey Reset.
a.   Sebuah data yang telah dimasukkan ke dalam E-views dimana Y dependen, X1 independen 1, dan X2 independen 2.
b.  Klik Quick » Estimation Equation.
c.   Ketik log(Y) C log(X1) log(X2).
d.  Dari hasil estimasinya, klik View » stability test » Ramsey RESET Test.
e.   Muncul kotak dialog Reset Spesification, maka pada Number of fitted terms tertulis angka satu, tekan OK.
5.5.  Pengambil Keputusan
        Jika jika uji signifikansi yang terlihat dalam prob. F lebih kecil dari taraf nyata 5% (0,05), maka dalam model regresi tersebut memiliki hubungan linear yang signifikan.
5.6.  Referensi:
a.   TIM Penyusun Jurusan EP Unnes. Panduan Praktikum Aplikom. EP Unnes
b.  Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: UNDIP Press.
c.   Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito Bandung.


Tidak ada komentar: