Minggu, 01 Maret 2015

Cerbung Keluarga dan Inspirasi : Bintang Bersinar untuk Bapak Part 2

Bintang Bersinar untuk Bapak Part 2
Seminggu telah berlalu dan ia berkunjung ke kampung menengok bapaknya yang sedang sibuk dengan pasien otomotifnya. Ia memang berjanji ke bapaknya akan pulang ke Kampung Selayu setiap hari Sabtu. Bapaknya terlihat sumringah melihat kedatangan anaknya dan tak ada tanda-tanda orang sakit. Raka agak sedikit tenang melihat bapaknya yang masih sehat dan masih bisa diajaknya  bermain bola secara pelan mengingat kondisi kedua kaki palsu bapaknya yang sudah rapuh. Raka pulang sampai rumah sore hari menjelang ashar dan bergegas bermain bola dengan bapaknya sampai adzan maghrib. Ia segera bergegas bertolak ke kota pagi harinya. Seperti tak kenal lelah Raka ini. Banyak cerita yang ia bagikan ke bapaknya. Seperti cerita tentang guru dan pelatih barunya, teman sekolah serta teman setim sepak bolanya, dan tak kalah lagi tentang keseruannya saat bertanding bola. Banyak orang dan pengalaman baru yang ia peroleh.

Di balik cerita kebahagiaan tentang sesuatu yang baru ditambah keadaan bapaknya yang sudah sehat membuat hilangnya rasa kecemasan tentang bapaknya. Ia sangat berterimakasih kepada Tuhan dan bapaknya. Ia tidak tahu bahwa di balik kebahagian serta jasmani bapaknya yang sudah pulih ada suatu maksud tertentu. Bapaknya sebenarnya sudah sakit parah namun ia sengaja berakting menjadi orang sehat di saat putranya pulang ke rumah. Ia tidak ingin membuat anaknya khawatir dan enggan pergi ke kota untuk berlatih dan belajar.
Sabtu ke empat telah tiba, ini saatnya ia harus berkunjung ke kampung halaman  menengok keadaan bapaknya. Seperti biasa raut muka rindu yang begitu mendalam muncul begitu kentalnya. Dengan perasaan bangga, bapaknya menyambut kedatangan putra satu-satunya ini. Tetapi kali ini mereka tidak brmain bola bersama, namun hanya ada obrolan santai di antara mereka.
“Le emang kamu nggak capek tiap minggu harus bolak-balik kampung-kota. Apa kamu nggak betah? Udah dibetahin-betahin aja mulai besok nggak usah pulang lagi. Pulangnya pas lebaran aja atau pas liburan panjang. Ngirit! Emang naik bus nggak butuh ongkos. Mending buat beli kebutuhanmu.” Nasihat Pak Arsyil ke Raka.
“Alah wong cuman seratus ribu kok Pak. Lagian aku juga dikasih uang saku dari Pak Syamsu. Pokoknya cukup, sisa banyak malah. Aku kangen kok sama Bapak. Baru hari Senin sudah pengin aja hari Sabtu.” Jelas Raka ke Pak Arsyil.
“Tapi bapak nggak suka kamu bolak-balik ke kampung. Bukannya Bapak nggak kangen tapi kamu sembrono ke Pak Syamsu. Sudah kaya orang nggak betah aja. Kamu pikir bapak nggak tahu kamu ndak ijin to sama Pakdhe angkatmu? Kamu juga bolos latihan Sabtu dan Minggu to? Kaya nggak niat aja. Katanya mau jadi pemain bola profesional buat latihan aja males. Seharusnya kamu bersyukur ada orang yang baik hati sama kamu bukannya menyepelekan begini. Lagian Bapak udah sehat kok. Kamu janji nggak bandel sama sombong lho.” Nasihat Pak Arsyil ke putranya panjang lebar.
Sejak saat itu Raka sudah tak lagi berkunjung ke kampungnya mengingat sudah menjadi keputusan bapaknya untuk tak ingin ditemui anaknya dalam waktu dekat. Meskipun rindu sudah menggebu, demi cita-citanya dan ambisi besar bapaknya terus ia tekuni sekolah di kota, mengukir prestasi, dan mengemban amanah bapaknya. Lagi pula ia ingin mengajari bapaknya bagaimana menyiksanya rasa kangen yang begitu parah ke orang yang paling disayang dalam dunia ini.
Hari itu matahari bersinar terik dan angin berhembus sepoi-sepoi mengajak semua anak-anak sepak bola yang sedang berlatih untuk tidur. Namun dengan semangat mereka tak terpengaruh dan tetap melanjutkan untuk berlatih sepak bola, memainkan bola, dan berlari melatih pernapasan. Pak Syamsu yang ikut juga berlari-lari kecil menyuruh anak didiknya untuk berkumpul dan berbaris. Semua anak didiknya menjadi tegang karena tak biasa beliau menyuruh semuanya berkumpul di saat latihan baru saja dimulai. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Jadi maaf kalau saya mengganggu latihan kalan. Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat siang anak-anak. Siang ini saya akan mengumumkan bahwa ada kabar gembira bagi kalian semua tentang beasiswa sekolah sepak bola ke Barcelona, Spain selama setahun. Kalian pasti sudah tak sabar siapa saja yang lolos dan layak mendapatkan beasiswa tersebut. Dan berdasarkan rapat kami kemaren, kami telah memutuskan siapa saja nama-nama yang lolos mendapatkan beasiswa tersebut. Penilaian berdasarkan bakat kalian dalam bermain bola dan kesungguhan kalian menjadi pemain bola hebat. Pada dasarnya kalian semua berbakat dan kesungguhan kalian semua sangat hebat. Jika kami diperbolehkan kami akan meloloskan semua namun kenyataannya hanya ada lima anak yang lolos, yaitu Andi Pramana, Sandi Budi Laksmito, Fauzan Agus Saputra, Randi Sudi Rahmana, dan ...,” pengumuman Pak Syamsu yang panjang lebar sempat terpotong karena ada anak didiknya yang berteriak histeris.
“Raka Arsyil Nugraha,” lanjut Pak Syamsu sambil tersenyum memandang Raka, “kalian yang belum lolos masih ada kesempatan jika kelima anak ini ada yang mengundurkan diri dan kalian berlima bisa kalian pikirkan matang-matang atau kalian tanyakan persetujuan orang tua dahulu.”
Sejak pengumuman yang terucap Pak Syamsu saat itu semakin membuat galau hati Raka. Ia jadi sering susah tidur karena terus memikirkan ini. Sebenarnya ia sangat ingin mendapatkan beasiswa ke Barcelona, tim favoritnya dan bisa bermain dengan idolanya sendiri adalah suatu dambaan. Namun di sini masih ada bapaknya yang juga masih membutuhkan keberadaannya. Apalagi waktu satu tahun bukanlah waktu yang sebentar apalagi jika harus tak bertemu dengan bapaknya. Jangankan satu tahun, satu minggu saja sudah sangat lama jika ia tak melihat wajah bapaknya.
Akhirnya ia memutuskan pulang untuk bertanya, mencari kejelasan dari bapaknya apakah ia rela jika ditinggalkan oleh anak semata wayangnya ke luar negeri dalam waktu setahun. Meskipun bapaknya sudah tak sakit lagi, tetapi apa sanggup jika beliau merasa kesepian karena hidup sendiri. Apalagi dua bulan lagi akan tiba Hari Raya Idul Fitri, pasti bapaknya sangat sedih karena harus termenung sendiri di saat orang lain bisa merasakan berkumpul dengan keluarga.
“Assalamualaikum Pak, gimana kabarnya Pak? Kok bengkel sepi?” Tanya Raka yang menyempatkan hari Sabtu itu untuk datang menjenguk ayahnya.
“Lho Le kok udah pulang lagi. Lebaran ‘kan masih dua bulan lagi. Baru dua minggu udah pulang lagi. Ya mbok diirit uang sakumu. Bapak sudah tak lagi mbengkel. Sepi soalnya,” Jelas Pak Arsyil meceritakan ke Putranya. Ia berbohong ke putranya. Padahal ia berhenti bekerja karena dilarang sama dokter jika harus bekerja yang berat-berat.
“Udah sepi banget to Pak? Sampai nggak ada customer gini. Hehe. Gini Pak, maaf harus pulang lagi soalnya mau bertanya ke Bapak, apa boleh saya pergi ke Barcelona buat sekolah di sana juga latihan sepak bola. Saya mendapat beasiswa.” Terang Raka dengan bangga.
Dengan kagum sampai melotot Pak Arsyil berkata, “apa Le alhamdulillah Le. Bapak bangga sama kamu Le.”
“Tapi saya masih bingung Pak. Saya sebenarnya sangat ingin pergi ke sana, tapi nanti Bapak lebarannya sama siapa? Apalagi dalam waktu setahun saya nggak boleh pulang ke Indonesia Pak. Apa Bapak nggak kangen sama saya?” Adu Raka ke Bapaknya.
“Lho ngapain bingung to Le. Kesempatan emas ini, jangan disia-siakan. Bapak ngga kangen yang kangen kamu wong baru dua minggu aja udah balik. Hehe. Udah kamu berangat saja jangan pikirkan bapak. Bapak udah biasa nggak ada kamu. Lagi pula Bapak ‘kan udah sehat jadi nggak ada yang perlu Kamu khawatirkan,” pitutur Pak Arsyil yang begitu menyayat hati meskipun ada gurauan di dalamnya.
Detik yang berjalan telah menunjukkan hari ke-5 sebelum hari H. Meskipun ia sudah bertanya ke Bapaknya secara langsung, Raka masih saja galau untuk menerima tawaran Pak Syamsu atau tidak. Meskipun ia sangat berkeinginan merasakan sensasi sekolah sepak bola di kota idamannya namun batin kecilnya masih tak tega merasakan bapaknya yang hidup sendiri. Apalagi Bapaknya sudah tak punya kaki, dan kedua kaki palsunya sudah rapuh pasti sudah tak ada lagi yang menjaganya.
Dengan memberanikan diri ia menemui Pak Syamsu untuk menceritakan bagaimana gejolak hati yang begitu beratnya ia rasakan. Ia sengaja berkeluh-kesah dengan pelatihnya karena ia pikir Pak Syamsu akan tahu apa yang harus ia putuskan jika dilihat dari sudut pandang orang lain.
“Tapi Nak, kamu tak boleh menyerah dengan keadaan bapakmu yang saat ini. Kalau kamu hanya terus ingin menemani bapakmu lalu sampai kapan hidupmu akan maju. Lagi pula kesuksesanmu juga kesuksesan bapakmu. Bapakmu pasti bangga punya anak sepertimu. Jika kamu terus-teruan tak ingin meninggalkan bapakmu hanya karena kedua kaki bapakmu yang sudah tak ada, sampai kapan pun kamu tak akan go international karena sampai kapan pun juga kedua kaki bapakmu sudah tak ada. Yang beliau miliki hanyalah kamu. Seharusnya kamu jadilah anak yang membanggakan,” panjang lebar ungkap Pak Syamsu meyakinkan Raka yang lagi galau menentukan keputusanya.
“Tapi Pak....” Sanggah Raka yang terus dipotong Pak Syamsu.
“Sudah jangan tapi. Hanya kamu yang menolaknya dari kelima anak pilihan. Mereka yang tak terpilih ingin untuk terpilih tapi kamu justru menolak. Ingat ya kamu itu hampir tergeser tapi karena usaha saya yang bersikeras untuk mempertahankan kamu demi mendapatkan beasiswa itu saya terlibat konflik dengan pelatih lain. Ulah kamu! Iya ulah kamu yang sering membolos latihan mengurangi simpati mereka terhadap kamu. Mereka menganggap kamu tak serius dan untung bakatmu itu agak sedikit menolong. Jadi tolong jangan kecewakan saya dan bapakmu!” tegas Pak Syamsu sambil meniggalkan ruangan itu.
Memang pilihan itu sangat berat namun impian besar, ambisi bapaknya, dan dukungan keras dari Pak Syamsu lebih memutuskan untuk Raka tetap pergi. Suara terbanyak lebih besar kedudukannya dibandingkan rasa ragu di dalam jiwanya.
Saatnya tiba di hari H untuknya meninggalkan Indonesia dan segera terbang menuju Spanyol. Doa terus ia bacakan dan hanya terbayang wajah bapaknya dipikirannya. Berat juga yang ia rasakan meskipun sudah benar-benar ia putuskan untuk tetap pergi. Tetapi tiba-tiba pikiran tak tenang tentang bapaknya masih menghantuinya.
“Hai Nak, sudah siap untuk terbang. Setengah jam lagi pesawat akan terbang,” sapa Pak Syamsu dari arah belakang sambil merangkul.
“Tapi saya masih memikirkan bapak,” Jawab Raka.
Dengan tanpa sadar muncul suatu perkataan dari mulut Pak Syamsu, “sudah Nak, operasi bapakmu semoga berhasil. Kita doakan saja dari sini.”
Raka kaget sampai jantungnya nyaris copot mendengar bahwa bapaknya akan dioperasi. Pernyataan yang muncul secara langsung dari mulut Pak Syamsu membuat Raka histeris dan meminta penjelasan secara jujur tentang bapaknya. Bagaimana bisa ia yang anak kandungnya justru tak tahu apa penyakit yang bapaknya derita selama ini. Pak Syamsu pun akhirnya secara terbuka menceritakan apa yang sesungguhnya dialami Pak Arsyil. Pak Arsyil ternyata baru tadi malam bercerita tentang keadaan sebenarnya ke Pak Syamsu. Ia hanya ingin memita doa dari sahabatnya. Ada satu permintaanya kepada Pak Syamsu untuk jangan menceritakan tentang penyakitnya kepada Raka hingga ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan untuknya hidup atau untuknya meninggal karena gagal operasi cangkok hati. Tapi karena Raka yang terus memaksa akhirnya Pak Syamsu mau bercerita tentang keadaan sebenarnya bahwa Pak Arsyil selama ini menderita penyakit kanker hati stadium tiga. Ia akan beroperasi malam ini setelah mendapat bantuan sedikit dana dari bekas tim kesebelasan yang ia bela dan donor hati dari sebuah keluarga yang mau memberikan hati salah satu anaknya yang meninggal karena kecelakaan. Pak Arsyil sengaja tak menceritakan ke Raka karena beliau tak ingin impian anaknya harus putus di tengah jalan karena penyakit bapaknya.
“Pak izinkan saya pulang Pak! Saya ingin menemani bapak.” Pinta Raka kepada Pak Syamsu.
“Pesawat akan pergi setengah jam lagi. Ingat kesempatan tak datang dua kali. Jika kamu tak jadi pergi saat ini maka Kamu akan menghilangkan kesempatan emas ini dan jika kamu pulang, kamu didiskualifikasi.” Ancam Pak Syamsu.
“Tapi Pak saya ingin menemani bapak saya. Apakah Bapak punya ayah? Pasti punya ‘kan? Dan saya tahu Bapak pasti sayang ayah bapak dan sangat susah ‘kan rasanya kalau ayah bapak meninggalkan Bapak atau Bapak tak ada disaat ayah bapak butuh kehadiran Bapak. Iya itu yang saya rasakan. Saya ingin ada di sampingnya disaat Bapak saya butuh saya. Memang yang saya minta operasi Bapak saya berhasil namun selain kesempatan sekolah sepak bola di luar negeri ada pula kesempatan buat saya untuk menemani Bapak di saat beliau butuh saya. Jadi tolong izinkan saya,” seru Raka dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Nak. Bapakmu bangga punya anak sepertimu,” seru Pak Syamsu mengizinkan.
Raka segera bergegas dan segera meninggalkan Pak Syamsu. Karena tak sabar ia berlari sampai ia dihentikan oleh keempat temannya yang sebenarnya sudah siap untuk terbang ke Spanyol, “Hai bro, Lho lupa sama kita-kita,” ucap salah satu temannya. Satu persatu dari mereka saling bergantian memeluk Raka dan merasa kagum dengan kebesaran hati rekannya ini. Ia lebih memilih kebersamaan dengan bapaknya yang harus ada untuk saat ini dibanding ambisinya yang sebenarnya bisa lain kali.
Namun sebelumnya ia kembali dan menghampiri Pak Syamsu, “Pak ada satu yang lebih pantas untuk ke Barcelona dibanding saya. Dia Feri Samudra  Sukma. Sekarang Feri juga ada di bandara tapi sekarang lagi di toilet. Dia ikut mengantarkan saya dan teman-teman. Sepertinya kesungguhannya untuk menjadi pesepak bola juga perlu diperhatikan. Terimakasih.” Seru Raka sambil berlari sekencang mungkin.
Feri adalah teman akrab Feri selama di asrama sehingga tahu betul bagaimana kesungguhan Feri untuk menjadi pemain bola profesional. Hanya karena Feri yang juga masih baru dan masih terbilang tidak begitu menonjol di depan pelatih membuat namanya tak begitu di kenal.
Di perjalanan dalam bus menuju Rumah Sakit Selayu hati Raka tak karuan memikirkan bapaknya. Banyak sekali pikiran ini-itu tentang bapaknya. Sampai di rumah sakit dan jumpa pada kamar bapaknya yang segera akan dioperasi, Raka langsung melempar tas ranselnya dan segera memeluk bapaknya.
“Lho Le kok nggak berangkat.” Tanya Pak Arsyil sambil mengelus kepala Raka.
“Enggak jadi Pak. Aku nggak jadi pergi. Mau nemenin Bapak saja.” Jelas Raka.
Mendengar bagaimana ucapan yang keluar dari mulut anaknya membuat hati Pak Arsyil meleleh dan haru-biru menangis tersedu-sedu. “Terus beasiswa kamu gimana Le?” tanya Pak Arsyil sambil menangis tak kuasa.
“Udah Pak lupain beasiswa Raka, yang terpenting kesehatan Bapak.” Jelas Raka yang menahan tangisnya hingga sesak nafas.
“Terus keinginanmu menjadi bintang di lapangan gimana to Le?” Tanya Pak Arsyil yang tak berhenti menangis.
“Tak ingin saya menjadi bintang lapangan hijau jika menjadi bintang di hati Bapak saja saya tak bisa. Raka hanya ingin menjadi bintang yang terus berterang menyinari Bapak yang entah merasa gelap karena kesusahan  atau pun bahagia. Maafkan Raka jika akhirnya Raka tak menuruti semua kemauan Bapak. Raka sayang Bapak.” Jelas Raka sambil tak kuasa melihat Bapaknya yang bermuka pucat dan memakai baju operasi.
Terkadang sukses bukanlah mereka yang terus bergelimang materi, kekuasaan, dan jabatan. Sukses juga bukan sesuatu yang dipandang mewah orang lain. Tetapi sukses akan ada di saat mereka ada di samping orang terdekatnya di saat dia dibuthkan. Dan terus menjadi bintang bersinar di antara orang tersayang.
Tamat

Tag = Tag : #contoh cerbung #contoh cerpen #Cerbung #Cerpen #Cerita Bersambung #Cerita pendek #Cerbung Bahasa Indoenesia #Cerpen Bahasa Indonesia #Cerpen Keluarga #Cerpen Inspirasi #Cerpen Kasih Sayang

Tidak ada komentar: