Senin, 21 September 2015

Hal Asyik Berujung Sakit (Efek Negatif Menggaruk)


Selamat berbahagia kawan sekalian. Bagaimana kabar kalian hari ini? Hari yang bahagia atau menyebalkan? Bisa dijawab di kolom komentar monggo. Semoga saja sih selalu bahagia dan masih dalam lindungan Tuhan. Aamiin. Oiya, semoga cukup katakan enjoy saja membaca postingan yang agak ngawur admin kali ini.

Pernah nggak sih kalian merasakan apa yang asik namun berujung sakit? Jujur saja! Pasti iya. Iya, tepat sekali hal ini disebabkan oleh godaan syaiton keparat yang terus saja memberikan bisikan kepada umat manusia agar mau melakukan hal kebatilan tapi mengasyikkan dan alhasil keterpurukan yang didapat manusia. Setuju?
Banyak sekali kasus semacam ini. Seperti halnya pacaran. Mungkin di saat Kalian jatuh cinta kepada seseorang betapa bahagia memandang atau pun memikirkannya. Sehingga mau nggak mau, Kalian akan terus bercerita tentang dia ke teman kalian (khusus penggalau gila curhat). Betapa bahagia Kalian kala itu meskipun sebenarnya betapa miris teman kalian karena sebenarnya teman kalian itu jomblo dan defisit gebetan. Eits...

Tapi tunggu saja perihnya. Suatu ketika ada suatu kejadian sehingga seketika kalian bakal mengalami perih hati karena harus terbelah berkeping-keping begitu kalian tidak jadi jadian dengannya atau sudah jadian ke dia tapi malah putus. Apalagi dia yang mutusin karena ada lain yang jauh lebih bagus dan berkualitas dari kalian. Tapi di situ ada yang bahagia, karena teman kalian mendapat anggota baru lagi di komunitasnya, Komunitas Jomblo Indonesia Raya. Hehe bercanda.
Sebenarnya nggak hanya ini saja contoh hal asyik tapi berujung sakit. Berdasarkan pengalaman saya selanjutnya adalah saat saya bokek nggak ada duit, bahkan ATM kena blokir. Ada suatu godaan pengin beli sesuatu yang nggak terlalu penting. Padahal dollar di dompet tidak ada. Jangankan dollar, rupiah saja masih kritis. Dan secara sepihak, kalian memutuskan saja untuk berhutang kepada orang di samping kalian atau lebih tepatnya teman sekelas, sekos, atau setemapat kerja. Agak nggak ikhlas mimik yang ditunjukkan di raut muka orang di sebelah kalian. Tapi karena iba dengan orang krisis finansial akhirnya mau tidak mau segera dipinjamkan uangnya ke kalian. Meskipun dengan perjanjian beribet bahkan jika perlu butuh tanda tangan atas materai, kalian masih saja ridho keluarkan uang pinjaman untuk kegiatan konsumtif. Dan apakah ini disebut manusia ekonomis? Oh tentu saja tidak. Asyik sih, hasrat belanja terpenuhi. Tapi tunggu saja hasilnya hingga teman kalian minta pembayaran. Bahkan bisa saja disebut hutang berujung petaka. Nasi sudah menjadi bubur dan makanya perlu waspada terhadap apa itu yang disebut asyik berujung sakit.
Masih banyak sebenarnya hal yang serupa. Iya jelas, alasannya adalah betapa kreatif para setan dalam merayu manusia hingga lengah dan mau melakukan apa yang ia perintahkan tanpa paksaan. Tapi selepas dari itu ada yang mesti admin share ke kalian? Ada yang di sini pernah gatal? Tunjuk jari depan laptop atau gadget masing-masing. Pasti sudah pernah semua bukan? Entah itu karena gatal karena serangga, jamur, ataupun lingkungan yang kotor. Tapi detik ini admin akan share tentang pengalaman pahit yang pernah saya alami. Ini bukan saja efek negatif menggaruk tapi juga efek buruk dari punya kuku panjang. Memang sebenarnya kuku panjang itu dilarang dan katanya itu tempat tinggal setan. Tapi ini saya lakukan dan alhasi begini deh jadinya.
Kala itu saya sedang melaksanakan tugas kampus untuk observasi di sebuah sekolah di Kota Kebumen. Maaf yah yang orang Kebumen. Nah, kebetulan saat itu admin harus bermalam di salah satu rumah teman admin yang asli Kebumen. Rumahnya seperti di hutan dan masih jauh dari peradaban kota (maaf namanya juga opini). Sehingga semalaman admin harus meronda bersama nyamuk-nyamuk imut dan caem tapi sayangnya imut dan caemnya menipu. Mereka haus darah dan tanpa bosa-basi mereka menghisap darah segar para manusia yang tidur di situ. Kebetulan kala itu hanya ada selembar sarung entah itu milik siapa. Jujur saya agak risih jika harus berselimut kain tidak jelas apalagi selimut tetangga. Akhirnya saya lebih memilih nggak pake selimut. Singkat cerita paginya bentol-bentol di tangan, kaki, dan wajah.
Seketika itu setan-setan mulai beraksi. “Ayo garuk sayang! Ayo garuk! Tunggu apalagi?” Tanpa habis pikir saya pun terus memainkan kuku-kuku panjang saya untuk merasakan sensasi garukkan ke kulit yang gatal. Wow nikmat, seperti rezeki dari Tuhan hingga lupa dunia. Tanpa sadar, tanpa eling terus saja saya lakukan. Dan tak berfikir akan dampak berikutnya.
Ada hal buruk dari konsekuensi yang harus saya terima. Ketika bumi telah kelam karena kulit harus rata dengan luka. Menjadi hitam, perih, dan meninggalkam noda. Tak enak dipandang mata kulitku ini. Sehingga orang tua di rumah malah bertanya yang tak mengenakkan. “Koe kuliah, apa matun to Nduk?” yang artinya “Kamu kuliah atau ke sawah ya Nak?” Dan menurut Kalian apa yang harus saya jawab?
Meskipun ini adalah pengalaman kecil tapi di sini dapat saya ambil kesimpulan. Bahwa hampir 100% kenikmatan yang diambil dari hawa nafsu menimbulkan mala petaka. Seperti halnya menggaruk pada hal yang gatal. Pikir saya kalau gatal mending diberi obat atau salep gatal. Bukankan cara yang demikian lebih baik? Karena tidak instan dan butuh proses. Benar memang bahwa segala sesuatu yang butuh proses dan perjuangan keras serta menghormati norma akan berdampak 100% lebih baik. Semoga ini menjadi pengalaman kecil tapi berhikmah. Aamiin. Satu pesan saya kepada selancar dunia maya sekalian, tolong kasih tahu saya obat pengusir setan atau pembasmi setan? Kasih tahu ya. Hehehe bercanda.

Sekian dan selamat potong kuku. Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi pembaca sekalian. Kritik dan saran sangat disarankan. Mohon maaf atas kesalahan bahasa maupun kata karena manusia tak ada yang sempurna. Apalagi saya. Saya mah apa atuh? Okay terimakasih.

Tidak ada komentar: