Selasa, 09 Juni 2015

Contoh Essay tentang Budaya : Indonesia atau Korea

Di zaman yang serba modern pengaruh globalisasi sudah tidak terbendung lagi. Globalisasi adalah arus pertukaran budaya dari suatu negara atau bangsa ke suatu negara atau bangsa lain yang meliputi segala aspek kehidupan melalui komunikasi atau transportasi. Pertukaran budaya antarnegara atau bangsa tersebut tentunya menunjang dan mengubah sikap dari suatu masyarakat bangsa sehingga diperlukan sikap selektif agar tidak terjerumus dalam jurang globalisasi. Dengan sikap selektif, seseorang dapat menyaring pengaruh globalisasi yang dapat memajukan kehidupannya atau memberi dampak positif terhadap dirinya atau pengaruh yang dapat membawanya ke dalam hal-hal yang tidak benar. Belajar budaya lain memang dianggap positif namun alangkah tidak baiknya jika malah melupakan budaya sendiri dan lebih mencintai budaya asing dibandingkan budayanya sendiri. Hal demikianlah yang sedang terjadi di Indonesia. 

Maraknya remaja di Indonesia yang lebih mencintai budaya asing dibandingkan budayanya sendiri, apalagi adanya demam Korea yang sedang merajalela saat ini. Mereka lebih hafal tentang biodata artis Korea dibandingkan biodata pahlawan di Indonesia yang jelas-jelas telah berjuang melawan penjajah dan mendirikan NKRI, negara mereka. Mereka juga lebih hafal lirik lagu Korea dibandingkan lirik lagu wajib atau lagu tradisional terutama lagu-lagu yang tidak diajarkan di bangku Sekolah Dasar. Mereka lebih rela antre demi menonton konser Boyband atau Girlband Korea yang harus berdesak-desakkan dibandingkan nonton seni pertunjukan wayang yang lebih murah, tradisional, dan tidak berdesak-desakkan tentunya. Mereka menyebut mereka sendiri dengan istilah K-Popers.
Lalu apa yang membuat K-popers semakin tergila-gila dengan Budaya Korea dibandingkan budaya mereka sendiri? Faktor fisik dan penampilanlah yang menjadi nilai jualnya, muka tampan dan cantik yang mayoritas oplas dengan busana trendy ala masa kini. Mereka membentuk Boyband dan Girlband, menyanyi dan menari kemudian menebarkan pesona mereka di atas panggung yang diteriaki banyak penonton. Hal tersebut juga tidak lepas dari arus globalisasi yang memudahkan pertukaran budaya dan kemudahan informasi dan komunikasi.
Hal itu bukanlah sepenuhnya kesalahan dari remaja di Indonesia, namun juga diperlukan analisis terhadap pertunjukan seni tradisional Indonesia sendiri. Tidak ada yang harus diubah dari seni tradisional Indonesia agar tidak menghilangkan nilai tradisionalnya tersebut namun pertunjukannya atau cara menunjukannya di hadapan penonton yang relatif monotonlah yang diperlukan adanya perbaikan agar tidak membosankan penonton. Juga diperlukan usaha agar tidak ada kesan bahwa kesenian tradisional itu ketinggalan zaman dan hanya milik orang lanjut usia.
Budaya Korea telah mengubah cara berpenampilan remaja di Indonesia. Dari mulai gaya rambut yang diubah dengan dipotong dan diberi warna agar mirip ala Korea. Pengunaan kaca mata yang hanya sebagai fantasi pun marak dilakukan remaja di Indonesia meskipun tidak ada gangguan dengan mata mereka. Mereka rela mengeluarkan dana untuk membehel gigi mereka yang sebenarnya tidak ada masalah pada gigi mereka. Cara berbusana dengan warna mencolok yang sama sekali tidak ada perpaduan dari atas ke bawah pun banyak diterapkan oleh kalangan remaja pecinta Korea berlebih sehingga tidak sedikit jumlah alayers saat ini. Apalagi remaja cowok pecinta Korea yang berlebih, mereka terkesan seperti remaja cewek yang cenderung over protective terhadap penampilan.
Cara bersikap pun mulai terpengaruh. Mereka berteriak-teriak tak wajar saat melihat boyband atau girlband favorit mereka yang sedang tampil di televisi, terutama pada remaja cewek pecinta Korea. Tapi apa mereka akan melakukan hal sama, berteriak-teriak historis saat melihat pertunjukan seni tradisional tari merak? Sungguh tidak mungkin. Mereka melongo, berharap menjadi kekasihnya saat melihat aktor Korea yang bermuka tampan, tak sadar bahwa mereka itu siapa dan dirinya itu siapa. Memang penampilan seseorang itu perlu, tetapi tidak bagus jika seseorang harus over protective terhadap perfomance, meniru atau berharap agar penampilannya sama dengn artis Korea yang terkadang tidak pantas diterapkan di Indonesia dan bagi mereka sendiri. Banyak anak-anak di Indonesia saat ini yang tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa daerah atau bahasa suku asal mereka. Mereka lebih senang berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau Bahasa asing lainnya. Bahkan saat ini remaja di Indonesia sedang gencar-gencarnya memburu kursus Bahasa Korea.
Musik di Indonesia juga mulai terpengaruh. Banyak boyband dan girlband yang mulai bermunculan di Indonesia. Mereka menari dan menyanyi bersama-sama sehingga tujuan dari menyanyi sendiri, yaitu menunjukan kualitas vokal tidak bisa maksimal sehingga teknik lipssing mulai popular di Indonesia. Hal ini mengakibatkan syarat utama seseorang menjadi penyanyi bukanlah bakat vokal namun hanya dari penampilan fisik belaka sehingga banyak artis-artis pendatang baru dengan bakat menyanyi ala kadarnya namun berani berkecimpung di dunia tarik suara hanya dengan modal fisik yang menarik. Pengamat musik pun berpendapat bahwa lirik-lirik lagunya bermakna dangkal dan instrumen musik yang digunakan lebih beraliran disco electronical. Hal ini sangat tidak bagus bagi perkembangan musik di Indonesia.
Lalu bagaimana dengan budaya Bangsa Indonesia sendiri? Bangsanya lebih tahu budaya asing dibandingkan budayanya sendiri. Hal ini sangat memprihatinkan, mereka tidak mengenal budaya asal mereka sehingga semakin minimnya usaha untuk memperkenalkan Budaya Indonesia di kancah Internasional dan akibatnya semakin menurunnya jumlah pecinta budaya tradisional. Satu per satu budaya kita diklaim dan diakui oleh bangsa lain yang sebenarnya merupakan seni bernilai tinggi dan asli warisan nenek moyang Indonesia. Bagaimana hal itu tidak terjadi? Bangsanya enggan belajar budayanya sendiri dan malah lebih memilih belajar budaya asing. Indonesia akan terus dibodohi dan menjauh dari asal mulanya. Jika hal itu terus berlanjut, habislah Budaya Indonesia. Indonesia akan menjadi bangsa minoritas tanpa seni budaya dan apalah arti luas wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke ini.

Perlunya pelajaran seni budaya di bangku sekolah terutama SD, SMP, SMA agar peserta didik lebih paham tentang Budaya Indonesia dan mempunyai motivasi untuk lebih mencintai budayanya sendiri. Ekstrakurikuler seni juga sangat penting. Sejauh ini hal itu telah dilakukan di beberapa sekolah di Indonesia. Penerapan bahwa urutan mempelajari seni dimulai dari budayanya sendiri menuju budaya asing, bukan dibalik atau malah tidak mempelajari budayanya sendiri. Hal itu merupakan pemahaman yang keliru. Peran pemerintah juga sangat penting dilakukan. Pemerintah harus membatasi tayangan budaya asing terutama budaya yang menyimpang terhadap nila-nilai Pancasila dan UUD 1945 dan menggantinya dengan tayangan seni tradisional. Selain itu pembenahan terhadap cara pertunjukan seni budaya tradisional di hadapan penonton juga sangat diperlukan. Adanya penambahan kesan menarik yang tidak menyimpang adat dan tidak mengubah nilai dari seni tradisional harus dilakukan agar semakin bertambahnya jumlah pecinta seni tradisional. Seni tradisional dapat pula disosialisasikan kepada remaja di Indonesia dengan menyebutkan daya tariknya dan hal yang mengancam apabila seni tradisional itu dihilangkan.



Tidak ada komentar: